oleh

MERAWAT LADANG KEHIDUPAN

KARYA : MARIA GS RATNA – Direktris  LSM SOPPAN (Solidaritas Perjuangan Perempuan Advokasi Korban

Kekerasan )-Ketua Komunitas  UMKM Gempur Gejur Manggarai Timur

Menanti Mujizat Rezeki di Tengah Ladang

Saya seorang ibu petani. Sudah sekian lama saya berladang, mengolah lahan untuk bertanam dan mendapatkan aneka hasil ladang. Semuanya demi kebutuhan hidup keluarga. Bekerja sebagai petani, diguyur hujan diterpa panas terik, didandani lumpur dan debu, bermandi keringat dan lelah, menabur harapan dan doa, berpasrah pada alam dan Sang Pemilik Semesta. Lalu, berkat, keajaiban dan mujizat terus menerus ditumbuhkan, dan diberikan. 

Kehidupan dipelihara sejak zaman leluhur, orangtua hingga sekarang saya alami.

Memang lelah ketika bekerja di tengah kebun ladang. Membersihkan rumput dan onak duri yang tidak diperlukan. Menggemburkan tanah agar siap ditanam aneka bibit. Lalu merawat tanaman dan menjaganya,  agar tidak rusak oleh hama dan binatang liar. Saatnya tiba,  mendapat hasil dan memanen berkat rezeki bagi keluarga.

ilustrasi Menanti Mujizat Rezeki di Tengah Ladang

Ada berkat, kejaiban dan mujizat di tengah kebun. Sebagai petani, saya belajar menyesuaikan diri dengan putaran musim dan keadaan alam. Pengalaman mengajarkan untuk bertanam sesuai musim dan keadaan tanah. Ada tanaman umur pendek dan ada untuk yang berumur panjang. Saya alami sebagai Mujizat adalah satu benih yang ditanam, ditumbuhkan oleh alam. Siapa yang menarik akar, tunas, daun dan menumbuhkannya? Hanya alam dan Sang Pemilik Semesta yang pasti mempunyai jawaban. Bagiku, itu mujizatNya. Lalu, satu bijih benih bisa menghasilkan puluhan dan ratusan biji, pohon berbuah lebat, serta daun hijau untuk sayuran. Siapakah pembuatnya, agar bisa dipanen demi kehidupan?

Itulah Mujizat nyata menurut saya sebagai petani. Dibanding lelah letihku bekerja, maka jauh lebih ajaib pemberian Sang Pencipta melalui keajaiban alam. Tergantung cara memandang dan kesadaran setiap petani. Menantikan Mujizat panenan, saya harus aktif bekerja mengolah ladang dan menanam benih.

Sebagai seorang Katholik, sekarang memasuki masa Adventus menjelang Natal. Masa untuk mempersiapkan diri menyambut kelahiran Sang Juru Selamat, Yesus Kristus. Setiap tahun dalam putaran musim liturgi Gereja, ada masa Adventus selama empat Minggu. Di gereja, dinyalakan empat lilin sebagai tanda. Adventus berarti “penantian” – menantikan kedatangan Yesus dalam kehidupanku, dalam jiwa ragaku dan keluargaku. Itulah yang saya maknai Masa Adventus.

Ada makna Adventus  yang saya bandingkan dengan pengalaman dan pelajaran di ladang sebagai petani. Mujizat Sang Pemilik Semesta bagiku sebagai petani, tidak akan terjadi, jika saya hanya diam dan menonton di tengah kebun ladang. Duduk menanti di ladang siang malam, tanpa bekerja mengolah ladang, tidak membersihkan rumput dan onak duri, tidak menanam dan merawat benih, tidak menjaga tanaman dari hama dan binatang liar, serta tidak memanen hasil ladang.

Hasil ladang

Hanya dengan aktif bekerja sebagai petani di kebun ladangku, baru bisa menantikan hasil ladang sebagai berkat Mujizat Sang Pencipta melalui alam. Maka, menantikan Sang Juru Selamat, Adventus, berarti merindukan dan mempersiapkan kedatangan Sang Juru Selamat, dengan aktif bergiat, bekerja menata ladang  kehidupan pribadi dan keluarga, agar Mujizat keselamatan Allah dapat saya panen.

Setiap hari ada Mujizat Kasih Allah yang bisa dialami, disyukuri, karena Kasih Allah abadi lestari, Cinta Allah tak berkesudahan. Semuanya terjadi dalam diri kita, seperti nafas dan detak jantung, semua talenta yang kita miliki dan berbagai pengalaman hidup.

Kasih dan mujizat Allah juga dinyatakan melalui sesama saudara dalam seluruh kehadirannya. Bahkan ketika mereka  mengecewakan dan memusuhi serta membuat kita menderita. Makanya, Yesus memerintahkan untuk mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita. Kasih dan mujizat Allah juga melalui seluruh kejadian alam semesta ini. Kita sangat tergantung pada alam sebagai penjamin kelangsungan kehidupan ini.

 Sebagai petani, saya alami kasih sayang dan mujizat Allah di tengah kebun ladangku. Maka, selalu saya kembali ke tangah kebun ladangku untuk bekerja dan merawat kebun ladang, karena disana ada Kasih dan mujizat Allah. Semoga dalam iman pun mampu saya merawat ladang kehidupanku, agar mendapat panenan melimpah, sehingga saya bisa menjadi berkat bagi keluarga dan sesama.

YA Allah Semesta Alam

Syukur atas segala Kasih dan MujizatMu dalam hidupku, melalui Keluarga, sesama dan alam ini.

Terimakasih atas kebun ladangku yang memberi rezeki dan mujizat kasihMu.

Berilah pertolongan rahmatMu, agar kami mampu mempersiapkan pribadi kami, menantikan kedatangan Yesus Sang Juru Selamat, dalam setiap detik kehidupan kami. Dan kami pun mampu menjadi berkat bagi sesama, sesuai tugas panggilan kami masing-masing. Terpujilah keagungan kasih dan mujizatMu bagi kami setiap saat.

AMIN

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed