oleh

MERAWAT LADANG KEHIDUPAN

KARYA : MARIA GS RATNA – Owner Brand Rebok Siki Seko,Jagung,Daun Kelor serta |UMKM Olahan Hasil Ladang Seperti Jagung,Cabai,Pisang dll. – Direktris Yayasan Solidaritas Perjuangan Perempuan Advokasi Korban Kekerasan (SOPPAN) Kabupaten Manggarai Timur.

Perjalanan Menerjang Belantara, Menyeberang Sungai, Meraih Nyawa

15/09/2022

“Akhirnya anak ini sudah kembali sembuh, sehat dan tertolong ……
Kisah menempuh perjalanan ke kampung terpencil, berjalan kaki 25 Km pergi pulang, untuk menjemput dan merawat anak yang menderita kekurangan gizi – Stunting. Terima kasih ya Tuhan, akhirnya anak yang manis ini bisa tertolong. Syukur kepadaMu ya..Allah”

Mendapat berita ini di gadgetku dari sang ibu, saya teringat lagunya Ebiet G Ade. Berita kepada Kawan. Ini penggalan syair lagunya, ” Perjalanan ini, terasa sangat menyedihkan, sayang..engkau tak duduk di sampingku kawan…” dan seterusnya. Memang agak berbeda konteks dan ceritanya. Tetapi, mungkin ada pesan yang mirip. Kisah cerita tentang lara derita duka hidup sesama. Mereka yang tak mampu bersuara, mereka yang miskin dalam berbagai aspek, tetapi mereka juga sesama saudara, manusia di sekitar kita. Sadari diri juga punya berbagai kekurangan dan kebutuhan, ada problema hidup, namun masih jauh lebih banyak yang lara menderita, sampai untuk bersuara menyatakan kesulitannya pun tak mampu, terasing, tertinggal, terlunta dan tak tahu apa dan mengapa terlahir.

Secara spontan, beberapa waktu lalu, ada sebuah pengalaman unik bersama seorang ibu muda, keponakanku, kami berdua ke sebuah kampung terpencil di Manggarai Timur. Berjalan melintasi hutan, kebun rakyat, naik turun bukit, menyeberangi sungai dan mendaki ke kampung itu. Keperluannya hanya mengunjungi beberapa keluarga sederhana, dan membawa pulang seorang balita yang sedang sakit parah. Ternyata karena kurang gizi, stunting. Banyak faktor penyebab; antara lain ekonomi orangtua yang miskin, pengetahuan yang sangat sederhana, jauh dari akses informasi dan sarana publik, serta kondisi sosial budaya yang tradisional. Mereka juga sulit bersuara atas keadaan sosial ekonominya.

Perjalanan pergi pulang dari kota ke kampung itu, menjadi gambaran yang saya bayangkan tentang nasib kehidupan yang dialami sesama saudaraku. Mereka terpisah jarak dalam relasi sosial budaya, tradisional dan digital milenial, juga berdampak pada semua aspek kehidupan lainnya. Anak balita yang kekurangan gizi, bisa menjadi cerminan harkat martabat mereka yang kelaparan kasih sayang dan kehausan solidaritas kemanusiaan. Mungkin bukan saja balita stunting dan komunitas di kampung ini, tetapi di banyak tempat lain, di tanah air ini dan benua lain, juga mengalami hal yang sama. Dunia sedang dilanda krisis stunting kemanusiaan dan lara derita kehidupan.

Sungai yang mengalir jernih dan deras sepanjang musim. Antara kampung dan hutan dengan kejauhan kota dan sarana kemajuan peradaban. Kelihatannya sumber air segar, namun bagi mereka yang stunting dan tertinggal, saya ibaratkan seperti canggihnya sarana teknologi digital dengan banjir informasi, tetapi justru memisahkan relasi kemanusiaan. Manusia digital milenial hidup dengan kemudahan zamannya, sedangkan komunitas masyarakat tradisional yang tertinggal, hidup dalam keterpurukan dan kekurangan multi dimensi, stunting kemanusiaan, menunggu solidaritas sesama atau terlupakan dan mati; karena “lapar kasih sayang dan dahaga cinta Persaudaraan” sesama manusia.

Pengalaman berjumpa dan tinggal merasakan kehidupan keluarga sederhana beberapa hari, memang memprihatinkan, menguras perasaan, melelahkan badan, mengusik pikiran, mengiris hati sanubari. Hanya penggalan doa sahaja dan kehadiran sesaat yang bisa kulakukan. Juga dengan tulisan curhat ini. Entah apalah artinya bagi mereka dan persoalan yang kompleks itu. Saya hanya mampu melakukan hal sangat kecil yang mungkin dalam keterbatasanku. Tetapi, ketika mendapat kabar balita itu kembali pulih dan sehat, maka ada sebuah kegembiraan besar, bahwa upaya dan doa sahaja kami dikabulkan, minimal untuk balita manis itu. Selebihnya, biarlah Keagungan Kuasa Sang Pencipta akan mendatangkan solusi dan menurunkan berkatNya. Saya teringat ucapan ini, “lebih baik menyalakan sebuah lilin kecil untuk memberikan sinar dalam gelap gulita, daripada diam dan tidak melakukan apa pun, lalu menuntut orang lain untuk membawa lampu sorot yang menghalau kegelapan. Belajar dan berjuang melakukan hal kecil sederhana dengan cinta kasih sayang tulus, dari doa nurani sahaja, bisa mengetok pintu kemurahan sorga, bagi sesama yang sedang lara derita.

Perjalanan menerjang belantara, menyeberangi sungai dan meraih nyawa sang bocah, sejatinya adalah perjuangan mengarahkan raga, menyeberangi rasa dan mengelola pikiran, agar bisa mengalirkan air segar perhatian kasih sayang, dari hati sanubari kepada sesama, karena kesadaran bahwa yang sedang menderita adalah sesama saudara. Seandainya saya sedang kurang gizi, kelaparan kasih sayang dan dahaga solidaritas persaudaraan, siapakah saudaraku ? Adakah yang mau peduli dan memberi diri sebagai pembawa berkat pertolongan ?

Ya Sang Maha Melihat,
terimakasih atas pengalaman ini dan terkabulnya doa sahaja kami bagi balita yang sunting. Masih sangat banyak yang stunting kemanusiaan dan persaudaraan.
Jadikanlah kami sebagai sesama saudara bagi yang lara derita, tak mampu bersuara dan sering terlupakan. AMIN

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed