oleh

MERAWAT LADANG KEHIDUPAN

KARYA : MARIA GS RATNA – Owner Brand Rebok Siki Seko Jagung-Daun Kelor serta UMKM Olahan Hasil Ladang seperti Jagung,Cabai,Pisang dll.-Direktris Yayasan Solidaritas Perjuangan Perempuan Advokasi Korban Kekerasan( SOPPAN) Kabupaten Manggarai.

Mencatat Jejak Ziarah Imanku

07/09/2022

Masuk dalam usia emas, sebagai seorang perempuan, yang sudah menjadi istri, Ibu dan Oma bagi anak cucu, saya bersyukur diberikan bekal iman oleh Tuhan melalui Orangtua dan leluhur. Iman kepada Sang Pencipta seperti dalam kearifan adat budaya dan ditegaskan dalam ajaran agama Katholik. Luar biasa, istimewa dan agunglah karya Allah dalam kehidupan ini. Aku memuji kebesaran Allah, dalam diriku, dalam keluarga dan anak cucu, dalam sesama manusia, serta dalam alam semesta.

Tentang iman, ya seperti adat budaya, saya terima sejak dalam kandungan dari orangtua. Menjadi seorang pengikut Tuhan Yesus, sekaligus adalah generasi penerus leluhur. Kehidupan iman dialami sebagai bagian pengalaman keseharian, dengan segala bentuk ritual keagamaan, juga adat budaya. Pengetahuan imanku berkembang dari waktu ke waktu, juga didukung dalam kesempatan pendidikan di sekolah serta lingkungan komunitas agama. Sampai usia remaja, semua kegiatan iman dan keagamaan dilaksanakan sebagai kewajiban. Hal yang sama juga dengan adat budaya. Jarang ada pertanyaan dan refleksi kritis, karena banyak alasan. Antara lain, karena ini hal sakral, dan belum berani bertanya.

Ketika sudah berkeluarga, bertambah relasi dan pengetahuan, maka ada keberanian untuk membaca, berdiskusi dan bertanya tentang apa yang saya imani. Satu saja tujuan dan harapan adalah agar saya lebih memahami ajaran imanku. Misalnya sejarah dari nama pelindung saya, juga soal devosi kepada Bunda Maria, sakramen dalam gereja, hirarki organisasi gereja dan lainnya. Dari proses itu, saya mengalami peningkatan pengetahuan dan kesadaran akan ajaran iman, dan mendorong saya untuk semakin sungguh berjuang menghayati ajaran imanku. Kitab suci pun menjadi semakin sering dibaca, agar lebih mengenal sabda Allah dan sejarah keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus.

Beberapa tahun akhir ini, dalam perjuangan menyelesaikan aneka problema hidup dan menghadapi tantangan zaman, makin kusadari bahwa semua bisa saya lalui hanya karena penyelenggaraan Kuasa Kasih Tuhan.

Doa menjadi senjata hidup yang saya andalkan. Ini tidak berarti semua masalah hilang dan tantangan tidak ada. Justru, dalam pengalaman saya, semakin tekun berdoa dan berdevosi, masalah terus mendera dan tantangan tetap menghujam. Sering saya kehabisan air mata dan kata, saat berdoa dan berdevosi.
Sebagai manusia, ada gugatan dan penuh tanya, apakah doa saya berarti dan didengarkan Tuhan? Apakah masih perlu saya berdoa ? Mengapa mereka yang kelihatan jarang beribadah dan berdoa, sepertinya hidup mereka aman saja dan berkelimpahan materi serta rezeki.

Sering ada rasa putus asa dan berhenti berdoa. Namun, saat marah dan berhenti berdoa, sungguh terasa hampa dan tidak tentu arah hidup. Kemana harus berharap dan mendapat ketenangan jiwa raga? Lalu, kembali saya mengandalkan Tuhan dan datang berseru kepada-Nya dengan doa dan devosi. Tuhan Maha Ajaib dan Misteri, nyata dialami tetapi tak mampu diselami rencana dan jalan-jalanNya. Sharing pengalaman iman sesama dan Kitab Suci menjadi sumber kekuatan, ketika mau menjadi lebih beriman dan menyerahkan hidup sepenuhnya kepada keagungan Kuasa Kasih Allah. Hidup ini seperti perahu di tengah samudera.

Saat ini, saya sampai pada kesimpulan bahwa Allah itu Maha Nyata dalam seluruh kehidupanku, sekaligus Maha Misteri. Dan saya percaya, bahwa segalanya akan indah pada waktunya Allah, bukan sesuai rencana dan selera saya. Maka, perjuangan saya adalah terus mengusahakan relasi yang akrab dengan Allahku, memperbanyak terimakasih dan ungkapan syukur, dalam segala suka duka hidup ini. Doa dan devosi menjadi andalan ungkapan iman, agar kehidupan bisa dijalankan dan memberi makna. Terlalu banyak berkat dan keagungan Allah dalam kehidupan sehari-hari, jika dibandingkan dengan problema hidup dan tantangan zaman.

Mengandalkan kekuatan pribadi ternyata tidak menjamin apa pun bagi kelangsungan hidup ini. Banyak hal yang prinsip hingga teknis, tergantung Kuasa Kasih Allah melalui sesama dan alam lingkungan. Maka, menjadikan doa dan devosi sebagai ungkapan iman, adalah pengalaman yang saya andalkan selama ini dan mau kuteruskan. Saya yakini bahwa semuanya akan indah pada waktuNya, dan saya berjuang menghadapi segala keadaan dengan senyum, karena mau berterimakasih dan selalu bersyukur.

Ya Allah Maha Agung dan Maha Misteri, terpujilah semua penyelenggaraan kasihMu dalam kehidupan saya. Menyadari segala kelemahanku, kumohon teguhkanlah imanku, kuatkanlah pengharapnku dan tambahkanlah cintaku kepadaMu serta sesama. Sertailah hidupku dengan rahmatMu, agar diriku layak di hadapan sesama dan berkenan kepadaMu. AMIN

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed