oleh

Terungkap, Ini Pemilik 1,1 Juta Liter Minyak Goreng yang Digerebek Satgas di Deli Serdang

20/02/2022, 19:44 WIB

Tim Subdit I/Indag Dit Reskrimsus Polda Sumut bersama Satgas Pangan mendatangi beberapa gudang penyimpanan minyak goreng di Deli Serdang dan menemukan puluhan ribu kotak kemasan minyak goreng.  Polda Sumut akan mengundang pemilik gudang untuk memberikan klarifikasi.
Tim Subdit I/Indag Dit Reskrimsus Polda Sumut bersama Satgas Pangan mendatangi beberapa gudang penyimpanan minyak goreng di Deli Serdang dan menemukan puluhan ribu kotak kemasan minyak goreng. Polda Sumut akan mengundang pemilik gudang untuk memberikan klarifikasi. (Polda Sumut)

KOPIFLOR.ID,DELI SERDANG – Baru-baru ini, Tim Satgas Pangan mendapati salah satu produsen yang berlokasi di Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara yang diduga menimbun 1,1 juta liter minyak goreng. Keberadaan tumpukan minyak goreng ini didapati di tengah kondisi masyarakat kesulitan mendapatkan minyak goreng karena langka di pasaran.

Kalau pun ada di pasar, harga minyak goreng masih dijual dengan harga cukup mahal. Hasil penggerebekan itu disampaikan langsung Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi. Mantan Pangkostrad itu menyatakan pihaknya sudah memberikan peringatan keras kepada produsen tersebut dan meminta mereka untuk segera mendistribusikan minyak goreng sesuai harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp 14.000 per liter.

Selain peringatan keras, lanjut Edy, pihaknya juga berkoordinasi dengan kepolisian untuk memproses hukum temuan tersebut. Hal ini sebagai efek jera agar tidak bermain-main di atas penderitaan rakyat. “Intinya sama saja jangan coba-coba bermain di atas penderitaan rakyat saya, apalagi ini musim pandemi, semua lagi susah. Jadi mari sama-sama kita pakai hati kita agar tidak menzalimi rakyat,” kata Edy.

Kralifikasi Grup Salim Setelah penggerebekan itu mencuat, perusahaan pemilik minyak goreng di gudang besar tersebut akhirnya buka suara. Pemilik minyak goreng tersebut adalah perusahaan Grup Salim milik konglomerat Anthony Salim.

Dilansir dari Antara, anak perusahaan PT Indofood Sukses Makmur Tbk, PT Salim Invomas Pratama Tbk (SIMP) memberi klarifikasi soal temuan sekitar 1,1 juta liter minyak goreng di gudang produsen di Deli Serdang, Sumut, oleh Satuan Tugas Pangan Sumut. Dalam keterangan resminya, manajemen SIMP menyebutkan minyak goreng tersebut merupakan pesanan dan siap didistribusikan ke pelanggan dalam beberapa hari ke depan.

“Semua stok yang tersedia, merupakan pesanan dan siap untuk distribusikan ke para pelanggan kami untuk beberapa hari ke depan,” katanya.

Manajemen SIMP menjelaskan pabrik minyak goreng tersebut memprioritaskan pemenuhan kebutuhan minyak goreng untuk pabrik mi instan grup perusahaan yang tersebar di seluruh Indonesia, termasuk di Deli Serdang.

Hal ini, katanya, demi memastikan kebutuhan pangan tersedia suplainya dengan baik. “Hasil produksi minyak goreng kami di Pabrik Lubuk Pakam, Deli Serdang, terutama digunakan untuk kebutuhan pabrik mi instan Indofood di wilayah Sumatera sebesar 2.500 ton/bulan,” katanya.

Selain untuk memenuhi kebutuhan sendiri, lanjutnya, kelebihan minyak goreng diproses menjadi minyak goreng bermerek dalam berbagai ukuran terutama kemasan 1 liter dan 2 liter sebanyak 550.000 karton/bulan yang rutin di distribusikan kepada distributor dan pasar modern di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan dan Jambi.

“SIMP sebagai perusahaan yang tumbuh dan berkembang di Indonesia senantiasa mematuhi semua peraturan dan ketentuan yang berlaku di Indonesia. Dalam hal ini terkait dengan peraturan Kementerian Perdagangan,” ujarnya.

Sebelumnya, Tim Satgas Pangan mendapati salah satu produsen yang berlokasi di Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, menyimpan lebih dari satu juta liter minyak goreng. “Hari ini kita melakukan sidak lapangan dan menemukan produsen menyimpan sekitar 1,3 juta liter minyak goreng,” ujar Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Sumut Naslindo Sirait di Medan, Jumat (18/2/2022).

Polemik harga minyak goreng mahal dan langka Sejumlah kebijakan pengendalian harga minyak goreng di dalam negeri sudah digulirkan sepanjang Januari-Februari tahun ini. Kendati harga rata-rata nasional berangsur turun, harga minyak goreng masih relatif tinggi, setidaknya masih di atas ketentuan harga eceran tertinggi (HET). Pasokannya juga masih seret sehingga sebagian besar masyarakat kesulitan mendapatkan minyak goreng dengan harga terjangkau di ritel modern ataupun di pasar tradisional.

Bupati Banyumas Achmad Husein sidak penjualan minyak goreng di Moro Ritel dan Grosir Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (19/2/2022).
Bupati Banyumas Achmad Husein sidak penjualan minyak goreng di Moro Ritel dan Grosir Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (19/2/2022)

Padahal, kewajiban pemenuhan kebutuhan pasar domestik minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan CPO olahan atau olein telah hampir tiga pekan bergulir. Selama kurun waktu empat bulan lebih, harga minyak goreng di dalam negeri melesat tanpa kendali. Sejak dua bulan terakhir, minyak goreng juga berkontribusi besar terhadap inflasi.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) juga masih diduga kartel persekongan para produsen besar minyak goreng dalam penetapan harga. Meroketnya harga minyak goreng di Indonesia ini jadi ironi, mengingat pasokan minyak sawit di Indonesia selalu melimpah. Di sisi lain, masyarakat terpaksa membeli minyak masak ini dengan harga impor.

Pemerintah pun akhirnya memutuskan untuk menggelontorkan subsidi duit Rp 3,6 triliun untuk penyediaan minyak goreng murah untuk Rp 14.000 per liter. Namun belakangan minyak goreng murah dalam program pemerintah tersebut sangat sulit didapatkan dan memunculkan masalah baru, kelangkaan. Di ritel modern, rak yang berisi minyak goreng lebih sering kosong.

Meski pemerintah melalui Kementerian Perdagangan berulangkali meminjam bahwa pasokan minyak murah aman dan bisa tersedia di pasar, realita di lapangan sebaliknya. Di jaringan minimarket, sejak beberapa pekan terakhir, sangat sulit menemukan program minyak goreng pemerintah. rak yang bahkan menampung minyak goreng, kini lebih sering.

Rak minyak goreng kini lebih sering diisi produk margarin dan minyak kelapa bermerek Barco. Padahal di pintu minimarket, kerap terpampang mengumumkan bahwa toko tersebut menyediakan program minyak murah pemerintah. Setali tiga uang, program minyak goreng pemerintah juga sukar didapatkan di pedagang pasar tradisional, termasuk warung-warung di sekitar pemukiman.

Kalaupun tersedia, harganya berkisar Rp 20.000 per liter atau jauh di atas HET yang ditetapkan pemerintah. Lantaran susahnya mencari minyak goreng sesuai harga yang mendorong pemerintah, banyak warga terutama ibu rumah tangga mendapatkan minyak goreng dalam operasi pasar yang digelar sejumlah pihak.

Berebut minyak goreng Dikutip dari Kompas TV , ratusan warga rela berdesakan demi mendapatkan minyak goreng murah dalam operasi pasar minyak goreng yang digelar Pemprov Jawa Timur di halaman Bakorwil Madiun, kemarin. Warga yang tak sabar, bahkan saling dorong untuk masuk dan membeli minyak goreng murah.

Dalam operasi pasar yang digelar Pemprov Jatim, disediakan sekitar 4.000 liter minyak goreng dengan harga Rp 12.500 per liter. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan jika kebutuhan minyak goreng di Jawa Timur sebanyak 59.000 ton per bulan.

Sementara produksi minyak goreng untuk Jawa Timur sebesar 63.000 ton per bulan, artinya produksi minyak goreng Jawa Timur seharusnya mengalami surplus. Di Jeneponto, Sulawesi Selatan, nomor ibu rumah tangga berdesakan di kasir salah satu minimarket di Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto. Para ibu berebut untuk dilayani dan membeli kemasan minyak goreng murah seharga Rp 14.000 per liter.

Antrean terjadi karena selama ini stok minyak goreng kosong dipasaran, jika adapun warga harus membeli dengan harga tinggi. Di minimarket pun stok minyak goreng dibatasi sebanyak 2 liter untuk satu orang. Di Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara, pasokan minyak goreng sesuai harga eceran tertinggi kosong.

Puluhan warga mengantre untuk membeli minimarket minyak goreng di salah satu di Kecamatan Kemiling, Sabtu (19/2/2022) pagi.  Di minimarket ini dijual dengan sistem kupon dan perorang dibatasi 2 liter.
Puluhan warga mengantre untuk membeli minimarket minyak goreng di salah satu di Kecamatan Kemiling, Sabtu (19/2/2022) pagi. Di minimarket ini dijual dengan sistem kupon dan perorang dibatasi 2 liter.

Jika ada di pasar, harga minyak goreng pun di atas harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah yakni Rp 14.000. Sebagai solusi, nantinya Pemerintah Kota Gunungsitoli melalui Dinas Perdagangan dan Ketenagakerjaan akan melakukan operasi pasar. Kelangkaan minyak goreng yang menyebabkan harga minyak goreng mahal menjadi keresahan sejumlah masyarakat.

Diharapkan pemerintah dapat mengatur tata niaga minyak goreng menjadi lebih efektif, sehingga kelangganan dan harga minyak goreng dapat segera teratasi. Hal yang sama juga terjadi Lampung. Di provinsi yang juga merupakan lumbung perkebunan kelapa sawit ini, warga menyerbu sebuah minimarket demi berebut minyak goreng dengan harga murah. Kendaraan yang membawa minyak goreng untuk dijual di minimarket di Lampung ini langsung diserbu warga. (MAXIMUS)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed