oleh

Tradisi “Sepa Api” dari Nagekeo

Tempurung kelapa yang sedang menyala diarak keliling Peo yakni sebuah tiang yang dikeliling batu di Kampung Pautola, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Dilansir dari Kompas.com,Sebagian dari tradisi unik di sembilan kabupaten di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) dilupakan dalam membacakannya. Berada di kampung terpencil dan menjadi salah satu kendala dalam memperkenalkan tradisi yang masih bertahan hingga era teknologi di zaman global ini.

Apalagi atraksi budaya yang unik hanya disaksikan oleh warga masyarakat di kampung dan desa itu saja. Salah satu tradisi yang tidak terpengaruh dengan budaya global yang ingar bingar adalah Tradisi “Sepa Api” dari Kampung Pau dan Toda di Kampung Pautola, Desa Pautola, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, NTT.

Dalam bahasa warga Keo Tengah, “sepa” diartikan tendang dan “api” diartikan api. Jadi “Sepa Api” adalah sebuah tradisi tendang bara api dari tempurung kelapa. Lihat Foto Bara api tempurung yang siap ditendang pada acara ‘sepa api’ di Kampung Pautola, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Setiap tahun tradisi ini digelar untuk mempertahankannya bagi generasi demi generasi di Kampung Pautola dan sekitarnya. Apa keunikan tradisi ini? Tradisi ini memiliki kekhasan tersendiri di Pulau Flores di mana tradisi digelar dari pukul 18.00 sampai subuh dengan berbagai rangkaian acara yang tidak terlewati.

Ana Susu sekaligus Nete Niro dan Kepala Suku Besar Suku Pautoada, Yosep Daga kepada Kompas.com beberapa waktu lalu menceriterakan Kampung Pautola, atraksi “Sepa Api” dibuka dengan acara pertama, Ka Todo Mbue (makan nasi kacang tali) yang dimakan oleh empat Ana Susu, yakni Ana Susu, Geradus Guda, Ana Susu, Hipo Loa, Ana Susu, Nobertus Mado dan saya sendiri di depan rumah adat Suku Pau Toda. Yang melayani makan keempat adalah istri mereka.


Lihat Foto Empat kepala suku menari sambil membawa parang dengan mengelilingi api unggun pada acara ‘sepa api’ di Kampung Pautola, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Kedua, Pute Wutu (penari dari empat anak susu atau pelaku adat) yang secara turun-temurun turun-temurun di kampung tersebut dengan parang di tangan. Setelah makan nasi kacang tali, empat anak susu (Kepala Suku atau Kepala Adat) bersama dengan Nete Niro (dukun adat) menari di sekeliling Peo. Peo adalah sebuah tiang yang dikeliling batu yang dibentuk dengan anak tangga.

Peo adalah satu tiang bercabang yang ditancapkan di tengah kampung sebagai tanda memuji kehadiran Sang Agung. Setelah itu, bagian ketiga adalah Sara Fai (istri dari empat Ana Susu atau Kepala Suku) menari mengelilingi Peo.

Lihat Foto Tarian Ndero dari Pautola, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Setelah proses ketiga selesai, bagian keempat adalah Ndera (Tandak atau tarian massal) yang melibatkan seluruh warga masyarakat dari beberapa kampung di sekitarnya. Selanjutnya, acara Daka Ana (tarian-kelompok dengan syair adat berupa pantun atau saling berpantun). Daka ana ini dilaksanakan kurang lebih selama satu jam dan dilanjutkan prosesi berikutnya yaitu Jetu (tarian tandak atau massal) dengan syair berkaitan dengan hasil bumi, yang ditanam di kampung Pautola dan sekitarnya.

Semua tanaman holtikultura dan tanaman disebutkan satu sama lain sambil bernyanyi. Acara ketujuh adalah, Bele Wo (tarian berhadap-hadapan sambil ada syair dengan menari-nari di atas bara api sampai bara api itu padam dan tak terbekas lagi di tanah). Selanjutkan dalam tarian massal dinyanyikan Eo Eo ade tadi manu meo woe ua (syair-syair jenis berbagai tanaman yang harus disebut oleh anggota penari).


Lihat Foto Tarian injak bara api pada acara ‘sepa api’ di Kampung Pautola, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Acara ke sembilan, Toto Madho Wado (menari massal seperti menai polnes). Acara kesepuluh adalah Wi Tuka Dako (menari-nari sama seperti menarik usus anjing). Acara kesebelas adalah Ka Fai Nggae (tua-tua adat atau empat ana susu makan nasi kacang). Acara keduabelas, Sepa Api atau tendang bara api dari tempurung kelapa. Sebelum menendang oleh anggota suku yang menendang bara itu, yakni Aloisius Aka. Dalam tarian massal yang menyanyikan lingkaran lagu Oa api Oa api.

Selanjutnya bara api diatur dengan baik. Di tengah-tengah tarian itu, Aloisius Aka dijemput dari rumah adat Suku Toda untuk melaksanakan “Sepa Api”. Setelah ditendang bara api itu, warga yang terus melaksanakan tarian massal menginjak-injak bara api sampai tak berbekas. Selanjutnya, pada acara ketigabelas, Ka Todo Pale (makan umum di halaman kampung Pautola).

Dan penutup dari rangkaian atraksi “Sepa Api” adalah Papa Todi yakni saling melempar antar warga Pau dan Toda secara massal dengan buah-buah seperti buah kelapa muda yang kecil, buah labu, buah pinang, buah enau dan buah-buah lainnya.

Lihat Foto Saling lempar dengan kelapa muda di Kampung Pautola, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Ana Susu, Geradus Guda, Hipo Loa dan Nobertus Mado menuturkan, atraksi-atraksi “Sepa api” terus digelar setiap tahun untuk kisah kisah leluhur di kampung tersebut saat terjaga. Dikisahkan ada seorang leluhur di kampung itu memiliki ilmu kebal dengan berbagai cara. televisi dibakar dengan bara api yang terbuat dari tempurung kelapa. Dikisahkan seorang yang memiliki ilmu kebal yang dibakar oleh masyarakat akibat tindakan-tindakan yang mengganggu warga kampung.


Dikisahkan, orang itu terbakar sampai tubuhnya hangus terbakar dan abunya diinjak-injak sampai tak berbekas. “Kami harus melaksanakan tradisi secara turun-temurun, dan apabila melaksanakan acara ini dalam setiap tahun maka leluhur akan menegur warga masyarakat dalam berbagai bentuk,” jelasnya.

Lihat Foto Rumah adat Suku Pautola di Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur

Vinsensius Pitu, tokoh adat Kampung Pautola menjelaskan, tradisi ini melibatkan leluhur kampung Pautola yang sudah ada dunia, sebelum dimulai terlebih dahulu digelar acara memanggil leluhur. Tujuannya, agar atraksi ini tidak ada kecelakaan sebab dalam tarian massal, warga kampung menginjak-injak bara api unggun.

Buktinya, setelah menginjak-injak bara api unggun, telapak kaki atau kaki yang ikut dalam tarian massal ini tidak mengalami luka. Uniknya, lanjut Pitu, atraksi ini tidak diikuti oleh anak gadis dan anak laki-laki remaja. Jika ada gadis kampung yang ikut maka anak gadis itu tidak memiliki keturunan jika tidak diobati oleh Nete atau dukun adat yang turun-temurun.

Dan di tengah-tengah halaman kampung, ada sebuah batu yang dilarang injak. Jika ada kaum perempuan dalam jak batu itu maka apabila tidak diobati maka gambar tersebut rontok. Jika ada kaum menginjak batu yang berbentuk bulat itu, diberitahukan kepada Nete Niro (dukun adat) untuk diobati.

“Kami berterima kasih kepada Pemkab Nagekeo di mana tradisi kami diliput media massa. Kami mengharapkan promosi melalui media massa dapat memperkenalkan tradisi ”Sepa Api” yang satu-satunya di NTT berada di Kampung Pautola. Kami berharap kepada para pemimpin di NTT dapat menyaksikan atraksi unik ini,” katanya.


Lihat Foto Kepala Suku Pautoda di Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, NTT. (KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR)

Michael Mura, tokoh adat Tegu Toda, Kampung Pautola mengatakan, sejarah pertama bagi masyarakat Pautola di mana ritual “Sepa Api” dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Nagekeo, Paulus. Pemerintah Kabupaten Nagekeo sudah mulai memperhatikan budaya yang masih tersembunyi di kampung-kampung di Kabupaten Nagekeo. “Kami akan terus memuji tradisi ini bersama dengan Pemerintah Kabupaten Nagekeo berusia 7 tahun mekar dari kabupatennya yakni Kabupaten Ngada. Ada untungnya sebuah daerah yang dimekarkan dan tradisi-tradisi unik dapat diperhatikan,” jelasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed