oleh

Suku Nataia di Nagekeo Tetap Lestarikan Adat dan Budaya, Ini Yang Mereka Lakukan

27 JANUARI 2022

Suku Nataia di Nagekeo Tetap Lestarikan Adat dan Budaya, Ini Yang Mereka Lakukan
Suasana Etu (Tinju adat) di Kampung Nataia Desa Olaia Kecamatan Aesesa Kabupaten Nagekeo, Sabtu (13/7/2019)

Suku Nataia di Nagekeo Tetap Lestarikan Adat dan Budaya, Ini Yang Mereka Lakukan

KOPIFLOR.ID,MBAY-NAGEKEO -Ketua Panitia Dhongi Koti Festival Atraksi 101 Gasing pada Even Tinju Adat (Etu) Nataia, Antonius Moti mengungkapkan bahwa suku Nataia di Kabupaten Nagekeo akan selalu melestarikan dan merawat adat dan budaya sebagai warisan adat dan budaya.

“Masyarakat adat Nataia, siap memberi dukungan pada pembangunan dan pengembangan sektor pariwisata terutama pembangunan pariwisata NTT pada umumnya dan Nagekeo khususnya,” ungkap Antonius, Senin (15/7/2019).Antonius mengatakan kekayaan budaya yang ada di komunitas Nataia, baik upacara adat, ritual, maupun warisan-warisan atau simbol-simbol adat merupakan kekayaan daerah dan bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Dilansir dari media Pos Kupang.com,Antonius mengatakan kegiatan Dhongi Koti Festival atraksi 101 Gasing pada even tinju adat (Etu) Nataia 2019 merupakan ide dan inisiatif masyarakat adat Nataia dalam rangka pelestarian budaya permainan masyarakat adat Nataia, sekaligus menarik minat wisatawan.

“Kegiatan ini melibatkan banyak kelompok masyarakat pencinta budaya yang berasal dari berbagai tempat/suku, karena dalam ritual etu Nataia ini, terdapat atraksi tinju tandak dan permainan gasing,” ungkapnya.

Sementara Ketua Suku Nataia, Patrisius Seo, mengatakan jadwal Etu yaitu, 10 Juli 2019 Koma Mua Go Laba.Ia menjelaskan ritual ini di tandai dengan meminyaki Gong-Gendang dengan santan kelapa parut, dan diikuti dengan Wari Go Laba (menjemur Gong Gendang).Ritual ini diakhir dengan pemukulan gong oleh Ketua Suku menandai gong gendang sudah bisa digunakan.

“Malam hari dilanjutkan dengan acara Soi Melo. Ritual ini adalah sebagai bentuk penyampaian kepada semua anggota suku untuk siap bahwa waktu etu telah tiba (enga ripn). Ritual ini ditandai dengan acara tandak dari pukul 19:00 Wita sampai pukul 00:00 Wita,” paparnya.Ia menyebutkan 11 Juli 2019 Etu Pate. Ritual ini sebagai pratanda bahwa Arena Etu sudah bisa digunakan untuk bertarung.

“Kegiatan ini ditandai dengan etu untuk anak kecil dari pukul 08:00 sampai dengan pukul 17:00 Wita,” jelasnya.Ia mengungkapkan 12 Juli 2019 Ja Kepo dan Boka Loka. Istilah ini bisa diartikan dengan pendinginan sarung tinju. Menandahkan bahwa etu meze (pertarungan untuk orang dewasa) akan dimulai.

Ia mengatakan petarung Etu Mese pertama terjadi disore haro dan terbuka untuk umum: artinya tidak hanya petinju dari suku Nataia saja tetapi anggota suku lain juga boleh ikut bertarung dan lanjutkan dimalam hari dengan acara Boka Loka.”Ritual ini terjadi dimalam terakhir sebelum segala rangkaian acara etu berakhir. Ritual ini berupa tarian mengelilingi api unggun diringi dengan saling berbalas pantun antara kelompok Teke,” jelasnya.

Ia mengatakan 13 Juli 2019 Etu Meze dan Boka Loka. Pertarungan Etu Meze adalah hari di mana segala rangkaian kegiatan etu akan berakhir, ritual ini akan ditandai dengan acara Dhongi Koti
(permainan Gasing), pada saat itu juga secara Adat Suku Nataia seluruh Masyrakat Adat Suku Nataia sudah diperbolehkan untuk bermain Gasing (Koti) di Tanah Nataia.(MAXIMUS)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed