oleh

Agensi Perempuan dan Struktur Kekerabatan di Kabupaten Manggarai Nusa Tenggara Timur

27 JANUARI 2022

OPINI Oleh: Sobe Milikior*

5 Pose Terbaik Berbalut Kain Songke – Berita Terkini, Berita Hari Ini di  Flores

Pada dasarnya budaya merupakan hasil karya atau cipta, rasa dan karsa manusia. Eksistensi dan peran manusia bersumber pada budaya. Bahkan sebelum dan sejak manusia lahir, bersamaan dengan itu pula budaya lahir.

Sepintas tampak bahwa budaya sangat erat kaitannya dengan manusia. Manusia hidup dan kehidupannya selalu dan di dalam budaya. Termasuk di dalamnya bentuk sistem/struktur kekerabatan. Sistem kekerabatan ini pun terbentuk atau lahir dari tiga aspek penting yaitu: hubungan perkawinan, hubungan darah, keturunan dan pergaulan sehari-hari.

Satu hal yang membuat saya tertarik untuk mendalami persoalan HAM adalah ketika saya hadir di tengah masyarakat dan budaya yang ada. Saya mengangkat salah satu persoalan budaya yang erat kaitannya dengan masalah status sosial di kabupaten Manggarai adalah persoalan gender.

Bagi orang tua di Manggarai, anak Perempuan merupakan anak orang luar (anak perempuan akan menjadi milik orang di luar rumah). Hal ini berdampak pada seluruh pola pikir para orang tua dalam mendidik dan membesarkan anak perempuan, misalnya: anak perempuan tidak bebas untuk ke luar rumah meskipun ada keperluan penting, anak perempuan banyak yang tidak disekolahkan bahkan Sekolah Menengah Atas (SMA) menjadi batas pendidikan tinggi bagi anak perempuan.

Sementara kalau pun disekolahkan sampai perguruan tinggi akan menjadi iming-iming bagi orang tua untuk mendapatkan belis (harta benda/uang) yang banyak dari suami yang nanti dinikahkannya.

Persoalan ini menjadi satu kunci (baca: penyebab asali) bagi persoalan sosial lainnya; persoalan yang kerap muncul adalah kasus pelantaran anak dan istri ketika orang tua anak perempuan menuntut belis yang besar/tinggi bagi keluarga lelaki/suami dari anak perempuan dengan secara paksa, akibatnya sang lelaki/suami pergi jauh dan melepaskan anak dan istrinya tanpa kembali lagi.

Acara ‘molas kole’ (artinya mempercantik kembali) bagi seorang anak perempuan yang pernah hidup berkeluarga dengan sang suami dan bahkan yang telah memiliki anak karena suaminya mengambil istri lain, meninggal, cerai atau alasan belis besar di atas.

Tujuan acara molas kole ialah membebaskan, membersihkan, memulihkan dan membuat jadi cantik kembali anak perempuan, dengan satu kesepakatan adat bahwa semua orang tua di seluruh kampung dan masyarakat lainnya akan menganggap anak perempuan itu masih ‘gadis’ (gadis: perawan kembali).

Konteks masalah gender akan dipertegas dan mendapat solusinya ketika masyarakat Manggarai seluruhnya mampu melihat kedalaman hati seorang ibu yang menjadi bumi kehidupan bagi generasi penerus. Ibu adalah siapa pun dia perempuan yang mampu memikul tanggung jawab yang telah dipercayakannya dari Tuhan.


Bak Artis! Intip Foto Nona-Nona Flobamorata Tampil Cantik dalam Balutan Kain  Tenun Khas NTT - BULIR.ID - Kenyang Jiwa, Sehat Akal

Satu kerinduan besar ini adalah menjadikan pribadi yang penuh tanggung jawab, bijaksana dan selalu peduli dengan persoalan HAM (dari perspektif budaya, agama, sosial, dsb.).

Membangun komitmen ntuk menjadi orang kecil sederhana bersahaja bagi semua orang, dengan memiliki jiwa dan semangat yang tinggi, penuh kepedulian untuk membantu dan melayani sesama yang masih tertinggal dalam kegelapan ilmu pengetahuan akan menjadi satu tatapan (baca: terang) bagi siapa pun.

Selain menimbah makna bagi pribadi, tentu juga membuat orang lain agar dengan penuh pemahaman dan dalam semangat persaudaraan cinta kasih untuk menarik (baca: mengajak) semua orang masuk ke dalam satu kehidupan yang harmonis dan damai.

Dengan menyadari manfaatnya seperti ini tentu menjadikan juga setiap pribadi manusia yang berkecimpung di dalam organisasi ini mampu menembus batas perbedaan dan persamaan dalam kebhinnekaan yang utuh.

Dalam kebudayaan Manggarai sebagaimana juga terdapat pada budaya lain, ada tiga jenis hubungan kekerabatan; Pertama, kekerabatan atas dasar hubungan darah. Kedua, kekerabatan yang terbentuk atas dasar keturunan. Ketiga, kekerabatan atas dasar hubungan perkawinan.

Selain itu juga ada beberapa pengelompokkan hubungan kekerabatan yaitu: keluarga patrilineal (wa’u/ase-ka’e), keluarga tetangga (pa’ang-ngaung), keluarga kerabat pemberi istri (anak rona-anak wina/woenelu) dan kenalan terdekat (hae reba).

Seluruh struktur kekerabatan ini bertujuan menegaskan hubungan keluarga bagi keturunan selanjutnya dan menerangkan bagi generasi penerus supaya hubungan kekeluargaan itu tetap dijaga.

Di tengah struktur kekerabatan ini, ada ketakutan dimana ada kecenderungan untuk selalu menomorduakan,(the second class) bagi kaum perempuan. Hal ini dilandasi oleh garis keturunan ayah dengan seluruh harta kekayaan dikuasai oleh anak laki-laki. Apakah anak perempuan bukan sekandung atau seibu atau seayah dengan anak laki-laki?

Mengkritisi persoalan ini, mari kita mulai membangun sebuah gerakan kepedulian terhadap nasib anak perempuan Manggarai ke depannya agar memberikan penghargaan setinggi-tingginya bagi kaum perempuan. Hal ini dibuat dengan membuka dialog dan wawancara dengan tokoh-tokoh adat dan budaya di Kabupaten Manggarai.


Penghargaan kepada kaum perempuan Manggarai seperti nilai yang ada dalam tahap-tahap perkawinan adat Manggarai, misalnya: Tahap Peminangan (watang dan watang karong salang = orang yang menunjuk jodoh); Peminangan, Perkawinan (Tuke Mbaru, paluk kila, pongo, kempu, kawing, karong loang = masuk rumah pertama perempuan oleh calon suami, tukar cincin, ikat, putusan belis, nikah, menunjukkan kamar oleh tokoh adat) dan pada akhirnya anak perempuan diantar ke keluarga suaminya (acara ‘podo’) yang selanjutnya dengan acara ‘gerep ruha manuk’ (injak telur ayam kampung) yang melambangkan sang istri milik sang suami dan bergabung dengan keluarga suami.

Penghargaan terhadap martabat perempuan ini merupakan warisan dari para leluhur yang mesti dipertahankan dan perlu dibudayakan turun-temurun. Banyak kasus kekerasan terhadap perempuan di NTT dimulai dari hal sederhana seperti pembahasan dalam tulisan ini (sambung).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

1 komentar

  1. Perlakuan terhadap anak laki dan perempuan sudah tidak ada perbedaan seiring perkembangan waktu.kalaupun masih ditemukan perlakuan istimewa terhadap anak laki laki di bandingkan perempuan. Secara umum sekarang ini yang menjadi perbedaan yang masih melekat adalah dalam pembagian warisan masih didominasi anak laki-laki sedangkan perlakuan dalam pemerataan pendidikan sudah diperlakukan sama. Saya pribadi sepakat perlu ada dialog tingkat kampung atau desa untuk merubah pemahaman budaya agar perlakuan terhadap anak laki-laki dan perempuan sama khususnya dalam pembagian warisan, kalaupun perubahan tersebut sedikit demi sedikit lama-lama nanti akan menjadi budaya.

News Feed