oleh

ANGKA MILENIAL‘2022’

15 JANUARI 2022

OLEH : MILIKIOR SOBE

milikior Sobe

Detik-detik yang menentukan sebagai satu ungkapan penuh makna melepas pergi seribu kisah masa lalu di tahun 2021 adalah satu moment spesial setiap insan manusia di bumi. Kisah-kisah itu telah menuai makna bagi setiap pribadi itu. Lantas jalan panjang di dunia masih merupakan kesempatan untuk merangkai makna yang lebih indah di tahun 2022.

Sayatan kenangan memberi arti sendiri bagi dinding kehidupan manusia di dunia. Dunia menjadi locus bagi manusia untuk menegaskan eksistensi adanya untuk mampu ber-ada bagi sesama manusia, dunia dan Tuhan. Lalu, apakah jalan ini adalah jalan semua manusia di bumi?

Kisah cinta antara bulan dan matahari merupakan gambaran cinta manusia pada dunianya yang tak berujung. Keduanya setia, namun tak pernah bertemu. Mereka hanya bisa saling merasakan kehangatan cinta itu. Sedemikian pun cinta manusia pada sesama, dunia dan Tuhannya. Cinta dalam rasa dan penuh harapan yang tak pernah diselesaikan secara sempurna. Kesempurnaan hanya dinikmati, jalan panjang cinta itu dalam rasa yang tak selesai.

Tahun 2022 mempunyai arti dan makna sendiri bagi setiap insan di bumi. Bagi penulis, nomor 2 mempunyai dua arti yang saling melengkapi. Ada hal positif, ada hal negatif; ada hal baik, ada hal buruk; ada hal benar, ada hal salah; ada lahir, ada mati; ada pertama, ada kedua; ada awal, ada akhir; dan ada cinta, ada benci. Di atas segalanya, kata bijaksana (The Wisdom) menjadi key word dalam realitas dunia milenial yang sangat menantang.

Angka milenial 2022 menjadi satu kajian khusus. Bagi generasi milenial tentunya menjadi jalan panjang menuju kehidupan penuh makna. Bisa dikatakan sebagai jalan panjang milenial. Jalan panjang yang harus dirancang dalam bentangan waktu dan ada, being and time (Jerman: Sein und Zeit).

Pencapain tertingi dalam seluruh refleksi atas seluruh kehidupan manusia menariknya untuk kembali ke dalam diri sendiri, inse. Puncak refleksi atas kehidupan ini, Aristoteles namakan sebagai logica. Logika selalu dikaitkan dengan pola pikir manusia. Manusia berpikir (Latin: res cogitans, homo intellectus) dan manusia harus berpikir agar eksis berada di dunia.

Secara sederhana angka 2022 terdiri-dari angaka 0 dan 2. Angka 0 merupakan angka sempurna, tentu cakupan artinya merujuk pada kata Tuhan. Tuhan digambarkan sebagai pribadi yang tak selesai didefenisikan manusia. Cinta-Nya tidak bisa diukur oleh manusia secara penuh. Dengan demikian, secara substansial angka 0 lebih menekankan pada sifat Tuhan yang tak terbatas, melampaui pikiran manusia.

Selanjutnya, angka 2 lebih mengarah pada kata kontradiksi. Ada dua sifat yang saling kontra, tetapi saling melengkapi. Keadaan ini secara eksistensial merupakan satu gugatan atas relitas kehidupan yang dualisme. Ya, kebaikan itu baik dan selalu ada, tetapi kebaikan akan ditantang oleh keburukan. Maka keduanya mesti dipahami dalam konteks yang berbeda, sama dalam hal saling melengkapi.

Pada usia ke-22 tahun abad ke-21 adalah usia muda yang masih labil belum stabil. Realitas perjuangan manusia masih jauh dari kata sempurna. Generasi muda masih mengejar cita-cita pada setiap kampus, tempat ia dilahirkan, dibesarkan, dibentuk dan diubah menjadi seperti yang diimpikan. Hal ini menjadi kajian ilmiah atas usia muda generasi muda di dunia.

Menurut BPS (2020), kehidupan generasi milenial di Indonesia sudah mulai bekerja antara usia 15-29 tahun yang merupakan jumlah penduduk terbanyak Indonesia.

Di beberapa Negara maju misalnya Amerika Serikat, Inggris, Prancis dan Australia; usia 22 tahun 75 % sudah bekerja atau sudah berkarir. Sementara di Indonesia, usia semacam itu 80 % masih di bangku kuliah. Hal ini berdampak pada pembangunan manusia dunia yang tidak sama mutuh sumber daya manusia (SDM).

Paradigma berpikir manusia harus dibongkar dan direkonstruksi kembali oleh akal budi yang milenial alias bijaksana. Manusia tidak diukur dari hebat karena ilmu pengetahuan dan temuan teori baru. Akan tetapi, bagaimana ia membuat dunia, manusia dan ciptaan lainnya hidup dalam nuansa cinta akan kebijaksanaan.

Ungkapan CINTA: C/Cinta, I/Itu, N/Nama-Nya, T/Tuhan, A/Allah menjadi satu makna dibalik numerologi (numerologi, artinya ilmu tentang angka) yang tak selesai dibicarakan dan mengukur seberapa besar cinta Allah kepada seluruh ciptaan-Nya di bumi.

Angka 0 dipadukan dalam dekapan cinta antara bulan dan matahari kehidupan. Bumi tak akan pernah sampai kepadanya, namun dirasakan dalam setiap masa yang penuh makna. Kesempurnaan dalam bingkai cinta ini akan selalu nyata dalam rasa dan perasaan besar yang diungkapkan dalam kata, rindu.

Goresan numerologi China dan filsafat China sebagai satu gugatan penuh makna pada insan manusia yang mencipta angka tersebut. Lantas, manusia dari waktu selalu bersentuhan dengan angka dan merangkai kredibilitas hidup dalam angka penuh arti.

Angka kesempurnaan menyatuh dalam helatan cinta, bijaksana, milenial dan mereduksi numerologi dalam pencapaian hidup manusia yang abadi selamanya. Ya, perjumpaan manusia baik dengan sesama manusia, dengan dunia, dengan alam dan dengan Tuhan adalah bagian dari bentuk kehadiran bagi yang lain.

Yang lain sebagai hadiah juga tanggung jawab dalam menata dunia penuh makna. Atas dasar asumsi aksiologi (aksiologi, artinya nilai dari tindakan manusia), maka angka 2 menduduki posisi strategis ilmiah dan mendapat posisi teratas, ketika manusia membawanya dalam konsep bersama yang lain di dunia. Oleh karena itu, angka 2 diartikan sebagai komunikatif, romantis dan bijaksana.

Pada puncak perjalanan panjang perjuangan manusia menuai banyak makna dalam merajut cinta penuh makna dan arti. Generasi milenial, seyogianya menjadi insan yang mampu melahirkan numerologi 2022 dalam nuansa hidup yang dialektis (mampu berdialog), romantis (menciptakan hidup dalam kasih persaudaraan) dan bijaksana (membawa dunia dalam semangat kerjasama, penuh nilai hidup positif, dan menjadi mitra bagi yang lain).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed