by

Membunuh Rasa Ingin Tahu Anak Itu Dosa Besar

Kamis,08 April 2021

Bupati Nagekeo Yohanes Don Bosco Do

Kopiflor.id,Nagekeo – Bupati Nagekeo membuka dengan resmi kegiatan Pelatihan Daily Routine Integrasi Kurikulum 13 dan Pembuatan Alat Peraga Edukatif (APE) Bagi Guru PAUD Kecamatan Boawae bertempat di Aula Hotel Pepita – Mbay, Rabu, 07 April 2021.

Demikian Siaran Pers Bagian Protokol dan Komunikasi pimpinan yang disampaikan oleh Merry/ Tim Humas NK kepada media ini.


Pelatihan ini terselenggara atas kerjasama Yayasan Plan Internasional Indonesia dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nagekeo.


Menurut Eka Hadiyanto Manager Plan Kabupaten Nagekeo pelatihan ini adalah pelatihan tahap kedua. Pelatihan sebelumnya diselenggarakan di tempat yang sama tanggal 24-27 Maret 2021 dengan peserta 47 orang dari 25 PAUD dan 14 Desa yang semuanya dari Kecamatan Keo Tengah. Sedangkan hari ini diikuti oleh 24 peserta dari 12 PAUD dan 9 desa dari Kecamatan Boawae.


Untuk Kecamatan Aesesa dan Aesesa Selatan sudah dilakukan 2 tahun yang lalu dan akan di refresh lagi. Dengan demikian, total 44 desa dampingan Plan Internasional hampir semua PAUD sudah dilatih.


Harapan kedepannya bagaimana para peserta yang pernah mendapat pelatihan tersebut dapat memperluas jangakauan melalui posyandu.
“Tugas bapak dan ibu mendorong kader-kader posyandu untuk mempraktekan dan memperluas jangkauan itu melalui posyandu. Bagaimana semua anak-anak yang ada di dusun-dusun bisa akses ke pos PAUD tidak hanya anak anak yang berada dipusat desa” ujar Eka.


Pada kesempatan itu, Bunda Paud Nagekeo, dr. Eduarda Yayik Prawita Gati, mengatakan bahwa ketika berbicara tentang pendidikan dan perkembangan anak itu adalah sebuah seni.


Menurutnya, sebagiann besar pendidikan dan perkembangan anak dititipkan pada bapak ibu sekalian. Nah, apa yang harus kita buat karena kita punya tanggung jawab untuk membentuk mereka, dan sebagian tanggung jawab orang tua ada di pundak bapak ibu.


“ Harapan kita adalah anak-anak akan menjadi generasi manusia masa depan yang mampu bersaing dengan negara lain.” katanya
Lebih lanjut bunda paud yang adalah juga Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Nagekeo itu, mengatakan tantangan saat ini, persis seperti yang disampaikan Pak Syarif Bando Kepala Perpustakaan Nasional RI saat berkunjung ke Kabupaten Nagekeo beberapa waktu lalu dan sangat berkesan.


“ Beliau berbicara banyak waktu itu tapi intinya adalah ketika saya memahami apa itu literasi. Menurutnya, Zaman Soekarno 99 % masyarakat Indonesia belum bisa baca tulis. Yang diajarkan adalah bagaimana cara mengenal kata, mengenal huruf dan kalimat.

Saat ini bukan itu yang kita kejar tapi bagaimana kita mendidik atau bagaimana kita memampukan seseorang untuk bisa menciptakan barang dan jasa yang bermutu sehingga bermanfaat bagi hidupnya dan orang lain” infonya
Pada kalimat yang terakhir ini, dalam pemahaman saya adalah ketika masih anak-anak seusia PAUD pun kita bisa menciptakan barang dan jasa.

Dan apakah itu kita ajarkan ditempat kita?
Diambil contoh, kita mengajak anak belajar menanam tomat, selanjutnya tanaman tersebut dijaga dan dirawat sampai berbuah. Sesuatu yang diciptakan, sesuatu yang dihasilkan. Anak-anak

petik hasil yang ditanam. Atau bagaimana kita ajarkan cara mencuci pakaian dan menyeterika dan hasilnya pakaian kotor jadi bersih dan rapih.


Mulai sedini mungkin anak diajarkan bagaimana menciptakan sesuatu yang berguna bagi dirinya, keluarga dan masyarakat. Ini akan terbawa terus. Kalau saya belajar membaca sesuatu dan bisa menyajikan apa yang tersirat dari yang tersurat dan bisa membuat teori baru, menganalisa dan membuat sesuatu akan terbawa secara sistematis dalam cara berpikirnya.


“ Mari kita ajarkan dan mereka menciptakan sendiri. Bapak ibu bisa lakukan sedikit modifikasi dan menjadi kreatif bagi anak-anak” ujarnya.


Bupati Nagekeo Yohanes Don Bosko Do, pada kesempatan itu, dalam sambutan singkatnya mengatakan Ibu-ibu punya peran besar dalam mendidik anak terutama karakter dari awal. Berikutnya merangsang atau minimal punya kesabaran ketika anak-anak punya usia ingin tahu yang tinggi sekali.
“Anak di usia ingin tahunya, ini apa, itu apa, dan mama biasanya tidak mau, kasih mainan atau apalah yang lain atau membentak. Apalagi mama-mama jaman milenial anak-anak dikasih main HP “ katanya.


Lebih lanjut Bupati Don katakan bahwa dalam bimbingan ini, yang diajarkan hal-hal yang kita alami. Pendidikan ini bagaimana kita melihat pengalaman riil. Jangan cari di buku yang ngawang-ngawang. Kita ngajar dia punya rasa ingin tahunya. Bagaimana kita biarkan anak kontak dengan alam, hanya dijaga jangan sampai digigit ular tapi kalau di gigit semut tidak apa. Karena itu juga dapat diajarkan kenapa kalau digigit semut bisa gatal. Zat apa yang menyebabkan gatal
Cari di google. Orangtua bisa jelaskan itu kepada anak.

Bupati Don secara tegas mengatakan agar jangan membunuh rasa ingin tahu anak.
“Saya ingin katakan bahwa kalian menghadapi usia anak dengan rasa ingin tahu yang sangat kuat. Satu hal yang saya pesan, kalau kamu bosan jangan membuat kesalahan atau dosa membunuh rasa ingin tahunya, itu dosa besar “ imbuhnya.


Dosa besar jika Guru Paud yang membina kelas awal bahkan anak mulai mengenal dunia dengan rasa ingin tahu nya, kita bunuh rasa ingin tahunya.
Era ini era revolusi science. Kita tidak tau tantangan dan lingkungan anak yang kita didik sekarang ini hidup 10, 15, 20 25 sampai 50 tahun yang akan datang karena perubahan yang terjadi begitu cepat.

Di akhir sambutannya, Bupati Don menyampaikan terima kasih kepada PLAN Internasional Kabupaten Nagekeo.
“Terima kasih banyak kepada PLAN yang sudah membantu daerah ini, dengan menyentuh bagian-bagian penting yang terus terang kami lalai.” tutupnya.


Turut hadir pada kesempatan ini, Bunda PAUD Nagekeo dr. Eduarda Yayik Prawita Gati, Manager Plan PIA Flores Kabupaten Nagekeo Eka Hadiyanto bersama jajaran, Tim Fasilitator dari pihak Akademisi STKIP Nusa Bunga Flores, Yohana Yuniati dan Maria Gabriela Winda Astuti, Tim Assesor PAUD Maria Pajo dan Clementina Yulita Sina, Kepala Bidang PAUD dan Pendidikan Khusus Layanan Khusus pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nagekeo Severinus Meo.

( Willy G)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed