by

SENJA DIBAWAH PANTAI PASIR PUTIH.

Yohanes Gabriel Meo

Oleh : Yohanes Gabriel Meo.

  • Mengadu dalam rasa yang kian bergelora dimana nestapa cinta bagaikan fatamorgana di ufuk barat yaitu senja dikala sore berwarna kemerahan saatnya untuk menggantikan siang kepada sang empu gelapnya malam, Aku kemudian berangkat ke laut untuk mendapatkan segala sesuatu yang dicita-citakan yaitu sepeser uang untuk memenuhi keinginan ku sendiri. Lautan yang begitu luas membentang nan tinggi permukaannya ku tatap wajah laut dari bibir pantai seakan aku mengendus sebuah keniscayaan akan kurungan keinginan untuk mendapatkan seribu impian hari esok. Dengan bekal ditangan kanan kiri serta alat-alat yang semestinya sebagai pelaut yaitu alat pancing ku pegang sebelah tangan kanan. Langkah pasti terus menyusuri pantai dan menarik sampan kecil kemudian berangkat dengan segala kekuatan penyemangat menembus segala ketidakmungkinan yang akan terjadi sebagai kekuatan untuk mendapatkan seribu taruhan mimpi. Setelah semua kusiapkan peralatan ayunan helai mata dayung menggerakkan sampan kecil menuju arah selatan dimana laut berpijak serta ikan-ikan menaungi dibawah dasar air tercampur garam tersebut.

Sesampainya ditempat yang konon katanya menurut soko guru melaut tempat itu merupakan lokasi berkumpulnya ikan diwaktu malam setalah itu ku turunkan pelan-pelan mata kail ditempelkan umpan ke dasar laut. Waktu terus berjalan seakan terdengar kebisingan bunyi jarum jam terus terdengar ditelinga namun ikan tak kunjung dapat disitu membuat aku bercumbu dengan kegelisahan sebab harapan hari esok pun pupus.

“Ahhh.. Aku lupa kalau si bunga kepunyaan ku besok akan berangkat ke salah satu kota yang ada di pulau Jawa untuk mengikuti testing masuk perguruan tinggi sesuai keinginan yang pernah Ia ceritakan ke aku “. Aku bercumbu dalam kesendirian untuk mengingat catatan pertemuan bersamanya kemarin sore dibawah pohon rindang ditepi pantai.

Dia adalah Magdalena sosok wanita yang menjadi bunga di taman hati ku saat ini. Kemudian aku mengayunkan sampan menuju ke tepian pantai dan mengurung niat akan kembali karena malam tidak bersahabat serta dewa laut tidak mengijinkan miliknya untuk diambil olehku.
Pagi pun tiba burung-burung berkicauan seakan sedang menertawakan kondisi batin perasaan yang sedang saya alami. Dari kejauhan aku melihat sosok wanita bertubuh tinggi dan helai rambut yang seakan-akan membawa saya kepada pikiran halusinasi akan bidadari tidak bersayap. Ternyata dia adalah Magdalena perempuan yang membuat aku selalu jatuh dalam nuansa percintaan dan seakan-akan terus mewarnai hari-hari ku.
” Mungkin Ia mau menemui ku ” . Tanya dalam hati.

Dengan perasaan percaya diri bahwa Magdalena akan menemui ku, secara refleks aku menuju ke depan rumah tepat dimana arah datangnya Magdalena.
” Jems selamat pagi, aku pamit dulu ya. Karena saya harus cepat-cepat berangkat sebab sebelum jam 12:00 aku harus sudah tiba di bandara H. Hasan Aroeboesman kota Ende ” Kata Magdalena dengan suguhan kosakata perpisahan dengan ku. Akupun seakan-akan tak mampu untuk berkata-kata lagi yang semacam lidah dan mulut tidak mampu untuk digerakkan lagi. Seperti tidak bisa mengikhlaskan kepergian Magdalena, jantung dalam dada berdebar-debar dan detakan semakin cepat bagaikan kecepatan waktu dalam stopwath .

Namun aku harus memaksa lidah dan mulut untuk berbicara sebagai pesan-pesan catatan terkahir bersamanya pagi ini. ” Aku mencintaimu Honey dan aku yakin kamu akan selalu menjaga rasa ini karena aku benar-benar tidak mau kehilangan dirimu. Tetap jaga hati kita yang sudah sejak lama bersemi lalu bertumbuh subur bersama bermekaran bunga di taman hati kita berdua Honey. Begitulah sapaan akrab aku ketika berbincang dengan Magdalena.

” Kamu harus yakin Jems kalau aku akan selalu menjaga rasa ini dan satu hal yang harus Jems katahui kelau kepergian ku hanya punya satu alasan yaitu seperti yang kamu ketahui juga untuk menuntut ilmu agar bisa membahagiakan keluarga dan hubungan kita nantinya. Ingat Jems bahwa segala sesuatu dalam hubungan yang paling pertama adalah kepercayaan karena dari kepercayaan akan membawa kita kepada kebahagiaan cinta yang sejati. Aku mencintaimu Jems ” Ungkapan hati Magdalena yang terasa membuat aku kuat dan rasa percaya akan hubungan kembali tumbuh. Setelah itu kami pun saling melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.

Waktu terus berjalan dan hari pun terus berganti waktunya hingga pada akhirnya kami berlarut dalam ketidakpastian akan sebuah pertemuan secara langsung. Dibawah pohon rindang persis ditepi pantai tempat kami mengadu mesra kala itu dimana kami bercumbu dalam sikon romantika yang sangat menekan emosional raga ini l. Aku selalu mengingatkan nya setiap waktu sore untuk berkomunikasi dengannya melalui handphone sebagai instrumen untuk mengadu nostalgia lama bersama dengan Magdalena.

” Honey, Aku sekarang berada persis ditempat yang pernah kita bermesraan bersama dikala senja dan waktu-waktu yang pernah kita tentukan kala itu melalui tanda isyarat dan juga menjadikan adik di rumah sebagai media informasi yang pasti. Apakah kamu masih mengingat tempat itu ? Pintaku dengan pertanyaan kepada Magdalena melalui handphone.

” Iya Jems aku masih ingat tempat itu, bagi ku tempat itu paling spesial teruntuk keberadaan hubungan kita berdua. Dimana kita saling menceritakan hubungan masa depan dan juga keterbatasan dalam keluarga serta pengelaman menarik setiap kita ungkapkan disana saat bercerita untuk meluahkan rasa kasih sayang dalam hubungan cinta kita “. Jawab Magdalena dengan penuh rasa haru menjawabi pertanyaan ku.

” Aku sangat merindukanmu dan juga mencintaimu begitu dalam bagaikan samudera di lautan biru itu serta tidak akan yang mampu menggantikan sosok mu Honey. Kamu bagaikan ibu yang telah melahirkan aku dan aku bangga memilikimu. Terimakasih teruntuk mu Honey semoga kamu tetap jaga rasa cinta kita ini ” jawabku lagi sebagai tanda perpisahan dalam komunikasi dibawah payung senja yang memanjakan jiwa yang haus akan kerinduan akan sosok Magdalena.

~SEKIAN.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed