by

KREASI DAN INOVASI MENULIS DI MASA PANDEMI COVID-19.

Simply Da Flores
Sabtu,27 Maret 2021.
  • Simply da Flores

Selama musim pandemi covid19, ada yang unik dan menarik. Sebuah Inisiatif dari Bu Julia Daniel – seorang Ibu Guru SMP – Sastrawati Kereta, di Depok – Jakarta dan Mas Kurniawan Junaidi, di Bandung – sastrawan dan pimpinan penerbit KKK, melakukan terobosan kreatif. Beliau berdua mengajak sahabat dan kenalan penulis karya sastra untuk berkarya dari rumah. Menulis Puisi tentang Ibu – Ayah – Anak, dari rumah masing-masing selama masa pandemi covid19.

Untuk Ibu, dengan judul IBUKU SURGAKU, telah dihasilkan tiga buku berseri dari hampir 300 penulis yang bergabung. Proses kerja kreatif ini terjadi sekitar 3 bulan, sejak diumumkan sampai penerbitan dan dikirim ke masing-masing penulisnya. Istimewanya, penulis yang ikut membiayai penerbitan karya bersama ini, dengan membeli 2 eksemplar buku, dimana karyanya termuat. Kontribusi perbuku sekitar Rp.80.000,- ditambah ongkos kirimnya sesuai alamat tempat penulis.

Hal yang sama, dilakukan untuk tema Ayah dengan judul AYAHKU JAGOANKU. Semuanya berhasil dikerjakan sekitar 70 hari, sejak diumumkan sampai pengiriman dan launching bukunya. Jumlah penulisnya masih sekitar 300 orang juga.

Sekarang ini sedang berjalan proses penulisan buku ketiga tentang anak, dengan judul ANAKKU PERMATAKU. Yang berbeda adalah baru sekitar seminggu diumumkan untuk mendaftar, calon penulisnya sudah melewati 250 orang. Tidak saja penulis dua buku sebelumnya, namun semakin banyak penulis yang baru mau bergabung. Rencana terbitnya bulan Juni mendatang. Diprediksi bisa mencapai 400an penulis, sehingga menghasilkan 5 seri buku dari judul ini.

Kreativitas dan Inovasi Literasi.

Pengalaman penulisan dan penerbitan karya sastra selama ini, biasa dibuat individu, beberapa orang, dan berkelompok – antologi sekitar puluhan penulis. Lalu diterbitkan dengan biaya penulis dan kemudian dibagikan atau dijula kepada umum. Ada juga yang dilakukan oleh Penerbit dan dipasarkan sesuai dengan strategi dan jaringan pemasarannya.
Tradisi itu, dengan dinamika suka dukanya sudah lumrah selama ini.

Korelasinya dengan kesadaran literasi masyarakat umum dan kalangan generasi muda di dunia pendidikan dasar sampai perguruan tinggi pun banyak cerita suka dukanya. Semangat penulisan dan penerbitan tidak serta merta memacu semangat membaca, apalgi menjadi kebutuhan dan budaya. Mungkin karena umumnya latar belakang budaya negeri kita adalah tradisi lisan. Juga sistem pendidikan kita belum maksimal membentuk kebutuhan dan kebiasaan membaca. Umumnya peserta didik belajar membaca untuk menjawab soal ujian, lalu selesai.

Sekarang di zaman kecanggihan teknologi informasi, ada atmosfir baru. Semakin banyak yang membaca dan menonton, namun materinya lebih dominan untuk kebutuhan instan dan hiburan serta promosi bisnis. Semangat membaca untuk menambah ilmu pengetahuan dan ketrampilan masih kalah jumlahnya dengan jumlah pembaca dan penonton untuk hiburan serta informasi iklan. Generasi Milenial memanfaatkan media teknologi informasi untuk kepentingan zaman now,; dominasi hiburan dan komunikasi instan.

Yang kreatif dan inovatif dari penulisan seri buku IBU – AYAH – ANAK, yang dimotori oleh Bu Julia Daniel dan Mas Kurniawan Junaidi, hemat saya, ada beberapa hal ini.

Pertama, adalah pilihan tema tentang Ibu, Ayah, Anak. Hal yang paling mendasar dalam kehidupan setiap pribadi. Penulis diajak membagi pengalaman hidup tentang dirinya dalam relasi sosial paling kodrati dalam keluarga. Ini juga menjadi input kreatif inovatif pada masa pandemi covid19, kita semua terpaksa kembali ke tengah keluarga. Sebuah karya dan inisiatif yang sungguh menyentuh eksistensi penulis, sebagai bagian integral keluarga, yang menjadi fondasi nilai sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Kedua, soal pluralitas kolaborasi. Para penulis yang bergabung dalam inisiatif menulis dari rumah selama masa pandemi covid19 adalah berasal dari aneka latar belakang. Dari segi umur, penulis termudah sekitar 20-an tahun hingga yang sepuh sekitar 80-an tahun. Daerah asal dari hampir seluruh wilayah Indonesia, dengan aneka suku budaya, profesi – pekerjaan, pengalaman menulis dan berdomisili di berbagai alamat sesuai pekerjaannya.

Lebih dari itu, tentang tema Ibu, Ayah dan Anak, tema keluarga yang istimewa ini ternyata dituangkan dalam karya Puisi dengan beraneka gaya, sesuai latar belakang dan cara pandang dari masing-masing penulisnya. Maka tema yang ada menjadi begitu pluralis dalam cara penulisan dan makna.

Ketiga, soal efektifitas manfaat penerbitan. Secara emosional, setiap orang barbangga atas hasil karyanya, dan merindukan karyanya dihargai. Apalagi soal karya sastra antar para penulis, ada kegembiraan untuk saling berbagi dan bersahabat dalam berkarya. Ada proses saling belajar dan saling memperkaya.

Dari sharing di WAG penulis, bahwa setelah buku diterima maka ada kerinduan untuk segera membaca hasil karya. Lalu membagi hasil karya agar dinikmati oleh keluarganya dan relasi kerabat maupun pihak terkait yang diyakini mau membaca hasil karya penulis. Misalnya, guru kepada muridnya, penulis kepada rekan di tempat kerja, rekan alumni sekolah, dll. Maka, penulisan dan penerbitan ini menjadi sangat jelas manfaatnya dan karya efektif tepat sasaran. Ditulis dan diterbitkan untuk dibaca. Bukan dijual dan belum tentu dibeli, dibagikan gratis dan belum tentu dibaca, apalagi jika dikirim kemana-mana dengan ongkos kirim yang masih sangat mahal. Model ini adalah salah satu kreativitas inovatif dalam memajukan literasi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa di negeri ini.

Keempat kolaborasi pembiayaan mandiri. Model penulisan karya sastra ini merupakan bentuk kerjasama pembiyaan mandiri oleh penulis dan dibantu penerbit. Nilai yang istimewa adalah para penulis menegaskan penghargaan terhadap dirinya dan karya sastranya, sebelum pihak lain peduli dan menghargai eksistensi penulis sastra dengan karyanya. Inisiator dan penulis karya sastra mau mengatakan kepada bangsa dan dunia, bahwa setiap orang, khususnya penulis karya sastra, nyata ada dan beeharga bagi kehidupan; meskipun umumnya manusia tidak melihat status dan kehadiran penulis sastra sebagai status sosial yang diidolakan dunia. Penulis karya sastra memberi penghargaan kepada jati dieinya dan karyanya bagi kemanusiaan, upaya mencerdaskan manusia, upaya meningkatkan penghargaan kepada kehidupan di tengah sesama, alam dan Sang Penulis Agung – Sang Maha Pencipta.

Kelima, advokasi pentingnya keluarga. Tema Ibu – Ayah – Anak yang dikerjakan para penulis karya sastra, menulis Puisi dari rumah selama masa pandemi covid19, menurut saya, adalah sebuah gerakan revolusi kemanusiaan hakiki. Kita semua diingatkan pada masa pandemi covid19 untuk kembali ke rumah, Kemabli ke tengah keluarga, kembali menemukan makna hakiki kemanusiaan yang bersumber dari relasi kodrati yakni relasi Ibu – Ayah – Anak: keluarga. Zaman Milenial, dengan canggihnya teknologi informasi, ada arus deras dampak negatif bagi kemanusiaan yakni egoisme dan individualisme. Banyak manfaat kemudahan dan positif, namun sangat banyak juga dampak negatif. Manusia melupakan nilai relasi kekeluargaan – solidaritas sosial, karena dipagari egoismenya yang didukung sarana teknologi informasi.

Ada satu info sedih di WAG para penulis hari ini, bahwa ongkos pengiriman buku lagi mahal. Apalagi dari kota di Jawa ke luar Jawa dan wilayah terpencil. Ongkos kirim justru belasan kali lebih mahal dari harga buku yang dikirim. Semoga ada solusi dari pihak berwenang dan menjadi bagian dalam anggaran pembangunan.

Akhirnya, saya berpendapat bahwa inisiatif “Kerja menulis bersama dari rumah”, dengan tema Ibu – Ayah – Anak adalah sebuah model kreatif dan inovatif, kolaborasi multi talenta dan bisa menjadi model revolusioner pengembangan literasi zaman now. Istimewanya, model kolaborasi ini tumbuh dari atmosfir pandemi covid19. Kreasi inovatif yang tidak saja untuk kemajuan kualitas literasi, tetapi juga partisipasi nyata para penulis untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Para penulis dengan karya sastranya menegaskan bahwa kehadiran penulis – sastrawan tidak pantas dipandang enteng sepele oleh bangsa, negara dan dunia. Para penulis karya sastra ternyata: menulis bukan untuk terkenal dan kaya uang, tetapi menulis untuk menghargai diri dan kehidupan, serta berkarya untuk memberi makna bagi kemanusiaan dan kehidupan, anugerah Sang Penulis Agung – Sang Maha Pencipta.

Proficiat untuk para inisiator dan segenap penulis karya sastra, dengan tema Ibu – Ayah – Anak: Keluarga. Teruslah berkarya dan SUKSES untuk peradaban dan kehidupan.

Semoga.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed