by

KREATIVITAS SAAT PANDEMI COVID -19: EKRAFT VICTORY MONI

Selasa,23 Maret 2021

Oleh : Simply Da Flores.

Dampak pandemi covid -19 dirasakan seluruh dunia dalam semua aspek kehidupan. Salah satunya di bidang pariwisata, yang berkenaan dengan hubungan para turis dan pegiat wisata maupun masyarakat di lokasi obyek wisata.

Beberapa hari lalu, saya berkunjung ke Valen ArtShop – di daerah Moni, tepatnya area gerbang masuk menuju obyek wisata danau tri warna Kelimutu, Ende, Flores. Nama lokasinya Ekraft Victory Moni, Gardu Pandang Moni, yang dikelola oleh sdr. Valentinus Reku, putra asli Moni – Lio, Kabupaten Ende. Aktivitas VALEN Artshop ini bermitra dengan sejumlah pihak: antara lain divisi seni budaya Ormas Ola Pera Pati – Nduaria, para Ibu sekitar Moni, pegiat seni budaya remaja Moni, Remaja Pencinta fotografi, Kelompok pengrajin Desa sekitar kawasan Moni – Wolowaru dan Danau Kelimutu, dinas Pariwisata Kabupaten Ende dan dinas Pariwisata – Pemda Propinsi NTT, juga Ekraft Kementerian Parekraft – Jakarta, juga jaringan jurnalis dan pegiat media sosial.





Lokasi yang digunakan adalah fasiltas Pemda Propinsi NTT, yang dipercayakan kepada sdr. Valens Reku untuk dikembangkan, di area yang selama ini dikelola dinas Pariwisata Kab. Ende untuk penginapan dan restoran. Tempatnya strategis dan indah, persis di pertigaan jalan dari Moni menuju Ende dan Danau Tri Warna Kelimutu.

Tantangan Pandemi covid19

Sejak dipercayakan hampir dua tahun lalu, kegiatan awal Eja Valen adalah merenovasi fasilitas bangunan yang sudah agak kurang berfungsi serta menata lingkungan yang ada, agar kembali asri. Di sini juga ada spot ‘gardu pandang’ ke arah pemukiman dan persawahan Moni, serta pegunungan yang mengelilingi daerah ini.

Pilihan ide pengembangan lokasi ini adalah bagaimana memulai kegiatan sederhana di area pintu masuk, untuk menarik minat berbagai pengunjung yang datang untuk berkunjung ke danau Kelimutu.

Namun, ketika baru memulai usaha pengembangan dan penataan, tantangan dasyat pandemi covid19 melanda dunia, yang berdampak negatif terhadap seluruh bidang kehidupan, termasuk aktivitas bidang pariwisata.

Para pengunjung asing – wisman maupun lokal, sangat berkurang bahkan hampir kosong sejak awal pandemi covid19. Termasuk juga kunjungan ke obyek wisata danau Kelimutu.

Pandemi covid19 melemahkan aktivitas ekonomi karena ancaman terhadap kesehatan, bahkan menelan ratusan ribu nyawa manusia. Selanjutnya bidang lain pun ikut terdampak, seperti keamanan individu dan keluarga, keuangan dan transportasi. Maka, jelas wisatawan asing terhenti dan juga pengunjung lokal sangat berkurang datang mengunjungi danau Kelimutu.

Pegiat wisata di Flores, Kabupaten Ende, khususnya sekitar danua Kelimutu kesulitan. Para guide, travel, sopir, penginapan, dan pedagang sovenir mengeluh terdampak situasi pandemi covid19. Namun, keluhan tidak berlaku bagi Eja Valens, pemilik ValenArtshop, pengelola Ekraft Victory Moni ini.

Kreativitas Menghadapi Dampak Pandemi covid19

Berbeda dengan pegiat wisata lainnya, Eja Valens – komandan pengelola Ekraft Victory Moni, bahwa pandemi covid19 tidak boleh menghentikan pikirannya untuk berkarya. Kiatnya adalah menggunakan fasilitas teknologi informasi zaman now untuk mendekati konsumen lokal, khususnya generasi muda. Tantangan pandemi covid19 tidak boleh hentikan kreatifitas dan inovasi berkarya. Hidup terus berjalan dan harus dilakukan dengan penuh optimisme dan syukur.

Cara yang dipilih adalah menciptakan photo spot, dengan desain unik dari media lokal – bambu, agar menarik generasi muda. Menurut Valen, generasi muda adalah konsumen potensial, karena semangat muda untuk melakukan petualangan, kegembiraan mengekpresikan diri, serta familiar dengan media teknologi informasi.

Maka, di lokasi Ekraft Victory Mony, Eja Valens menyediakan berbagai souvenier dan informasi tentang Danau Kelimutu dan makanan minuman ringan. Khusus untuk generasi muda dan keluarga, wisatawan lokal, Eja Valens membangun aneka spot foto dengan bahan lokal dan penataan taman yang unik. Ada spot bentuk hati, sayap, Kingkong, tanaman bermotif hati, dll. Juga disediakan busana daerah Lio, bagi peminat fashion tradisional dan kreasi.

Di bagian dalam rumah bambu, ada disediakan layar lebar untuk kreasi foto dengan aneka latar belakang obyek pilihan pemirsa, dari yang tersedia di program komputer. Misalnya, Danau Kelimutu, Naga Komodo, Monas, Borobudur, Bali, Menara Eifel, Patung Liberti, dll. Hasil foto bisa dicetak dan juga dibagi ke handphone pengunjung. Harga relatif murah dan terjangkau kaum muda serta keluarga.

Hasilnya, dalam waktu kurang dari setahun, pengunjung lokal, baik remaja maupun keluarga, sudah lebih dari dua ribu orang berkunjung dan berfoto ria. Sebuah kenyataan yang patut diapresiasi, dan memberikan harapan di tengah suasana pandemi covid19.

Eja Valens disiplin dan berjuang menjamin kenyamanan pengunjung, sarana pendukung Protokol kesehatan disiapkan; tempat cuci tangan, MCK dan jaga jarak selalu diingatkan.

Masih ada sejumlah ide kreatif sedang dilakukan, seperti kegiatan seni budaya bersama para kaum mileneial, sport unique, juga even fotografy, kuliner lokal, dll. Sasaran pemirsa dan partisipan adalah wisatawan lokal; khususnya kaum muda dan keluarga. Sebagai

Sedangkan untuk wisatawan asing, Eja Valen mengaku bahwa masih ada stok ide dan Program yang sudah disiapkan. Intinya, fakta pandemi covid19 tidak boleh membuat kita berhenti berpikir, lalu stop kembangkan kreatifitas dan inovasi untuk menghasilkan uang. Karena kehidupan berjalan terus, kebutuhan tetap ada, dan uang dibutuhkan untuk membeli berbagai barang dan jasa untuk kepentingan hidup. Artinya itulah peluang berkreasi dan berinovasi, melayani kebutuhan orang lain, lalu ada income untuk kita.

Peran Berjaringan dan Teknologi Informasi





Valen

Eja Valen, owner Valen Artshop dan Komandan Ekraft Victory Moni; zaman now kita sudah dimudahkan oleh kemajuan sarana teknologi informasi. Internet, media sosial dan fasilitas teknologi informasi yang ada mampu membantu kita untuk: mendapat informasi, belajar dari berbagai sumber, hiburan serta bisa membangun kemitraan dengan siapa pun.

Yang paling penting adalah soal membangun cara berpikir kreatif dan relaistis, kemauan dan ketekunan berusaha dengan prinsip SMART (spesifik, measurable, acountable, reasonable, timeframe), mau berjaringan dengan multi pihak. Kita juga jangan egois dan rakus. Kita harus jujur dan memulai melakukan sesuatu dan total mencintai pekerjaan yang kita pilih. Jangan lupa juga kiat penting untuk memikirkan keperluan calon konsumen, agar mereka puas, aman dan bangga. Maka, bagian manfaat untuk kerja jasa kita pasti datang dan berkelanjutan karena semua itu. Bahkan konsumen yang puas, aman dan bangga dilayani, justru akan datang lagi, serta menjadi agen pemasaran kita dengan testimoni mereka. Demikian papar Eja Valens, yang memiliki ketrampilan khusus di bidang pengolahan kerajinan Bambu.

Rupaya Eja Valens menghidupi Filosofi para orangtua dan leluhur kita yang petani; yakni “kalau mau panen dari kebun sendiri, ya kita pilih bibit yang baik, tanam, rawat dan pupuk, laku saatnya pasti berbuah dan bisa di panen, serta berkelanjutan. Pasti harus selalu disertai dengan DOA, sebagai andalan spiritualitas hidup dalam kehidupan ini.

Agar bisa berjaringan dengan berbagai mitra, kita perlu bangun komunikasi yang jelas, jujur dan disiplin, termasuk jujur soal informasi dan uang. Untuk membangun mitra, perlu disepakati jelas dari awal tentang kewajiban dan hak, lalu jika sudah disepakati harus disiplin, jujur dan berkomitmen, sehingga kepercayaan akan terbangun. Demikian sharing pengalaman dan prinsip Eja Valens.

Dengan kemudahan teknologi informasi zaman now, semua sepak terjang kita sangat mudah dipantau pihak lain. Maka, kata Eja Valens, saya berjuang menjaga prinsip dan komitmen dengan semua pihak; baik konsumen dan mitra,. Itulah butiran praktek dari kiat sukses.

Hari demi hari, siapa diri kita akan jelas bagi banyak pihak, apakah kita pantas jadi mitra pihak lain atau tidak. Demikian pengalaman Eja Valens yang dibagikan, dan menjadi pegangan perjuangannya selama ini dan nanti ke depan.

Pilihan Eja Valens tinggalkan usaha di rantau, lalu pulang ke kampung Moni adalah mau membangun kesejahteraan diri bersama masyarakat, dengan mengembangkan potensi alam dan budaya yang ada. Bidang pariwisata adalah satu peluang yang bisa diandalkan, meskipun sedang terjadi pandemi covid19.

Ternyata, sharing pengalaman Eja Valen, pemilik ValenArtshop dan komandan Ekraft Victory Moni, membuktikan bahwa pandemi covid19 tidak mematikan seluruh peluang kreativitas dan inovasi untuk membangun kesejahteraan diri dan bersama. Proficiat.

Semoga.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed