by

Perjuangan PKF Harus Jadi Milik Bersama

-Blog-322 views

Senin, 22 Maret 2021

Oleh : Martin Theodore

Martin Theodore

Kopiflor.id- Salam ngopi di kopiflor. Terima kasih para pembaca setia kopiflor, dan para pejuang pembentukan Provinsi Kepulauan Flores (PKF). Semakin hari harus disadari, bahwa isu pembentukan provinsi kepulauan flores gaungnya belum menembus batas, hingga menusuk sampai ke telinga-telinga masyarakat luas.

Ada sejumlah keterbatasan, antara lain sistem fondasi perjuangan yang belum dibangun dengan begitu kokoh, perjuangan tidak melibatkan banyak kelompok,komunitas, ormas, atau entitas-entitas lainnya, minimnya peran milenial untuk ikut berkampanye via medsos, serta sumber daya yang mampu menambah daya gedor sangat terbatas.

Dalam rangka membangun sistem fondasi perjuangan, saat ini sudah sebagian dilakukan pembentukan kelompok aspirasi mulai dari Kabupaten, Kecamatan, Desa, hingga RT/RW. Kerja-kerja konsisten yang ditunjukan oleh ketua Kopiflor sekaligus Waketum P4KF Thomas Tiba Owa, juga para Kortim Aspirasi PKF Kabupaten adalah bagian dari membentuk sistem perjuangan. Harapan dengan sistem, maka ketika perjuangan harus berganti figur maka sistem itulah yang akan tetap jalan.

Perjuangan harus didasari oleh mindset bahwa perjuangan itu adalah milik orang banyak,dan harus melibatkan orang banyak, baik dengan cara mengajak kedalam komunitas Kopiflor atau melalui komunitas lain itu jauh lebih bagus.

Siapa saja warga Flores kepulauan berhak menyuarakan pembentukan PKF, melalui kelompok masing-masing, selama tujuan kita sama, maka tidak boleh ada yang berprasangka buruk, atau sensitif seolah -olah kelompok lain adalah kelompk tandingan atau sebagai bentuk ancaman.

Abad ini tidak lagi memandang bahwa kerja bersama adalah persaingan, melainkan kolaborasi aksi dan kolaborasi berpikir. Pejuang harus memberi ruang gerak kepada orang lain, untuk bebas melakukan inovasi, kreatif berpikir dan bertindak, sehingga memperpendek durasi perjuangan PKF.

Pejuang harus memiliki kesadaran berpikir, bahwa setiap orang diajak secara sukarela untuk ikut berjuang, untuk itu benih-benih atau mental penguasa harus ditinggalkan. Tidak ada orang yang secara sukarela bekerja dibawah tekanan. Pejuang harus bisa memberi edukasi bahwa koordinasi dan kolaborasi adalah kunci solid kerja sama tim.

Peran para milenial, kelompok pemuda sangat penting dalam perjuangan PKF,untuk itu design narasi isu yang menarik perhatian publik harus dikemas sedemikian rupa. Kita harus melangkah lebih maju, pikirkan hal-hal baru, jangan lagi narasi sejarah-sejarah yang dominan, bangun narasi yang dapat menyalakan energi publik.

Terakhir harus diakui keterbatasan sumber daya, saya melihat ketika teman-teman di Kabupaten mau berkunjung dan bersafari ke kecamatan untuk membentukan kelompok aspirasi sangat sulit untuk disupport.

Untuk itu gerakan sumbangan sukarela, harus lahir dari hati kita masing-masing yang merasa sebagai seorang pejuang. Sumbangan tidak dapat mengganti jerih paya rekan-rekan pejuang kita dilapangan, tetapi setidaknya dapat membantu untuk membeli minum, makanan, atau membantu membiaya cetak alat peraga kampanye seperti spanduk, baliho, stiker, brosur, flyer, plakat, dll.

Terakhir saya mengakui dalam pikiran kita ada sejuta ide, sejuta usulan, tetapi mengusulkan ide dan usulan kemudian dengan harapan ide atau usulan itu dilakukan orang lain ?

Perjuangan PKF menjadi lebih mudah, ketika semua orang menjadi pelaku perjuangan, namun tidak ada kesempatan untuk terlibat langsung, maka bapak dan ibu bisa terlibat dengan cara memberikan sumbangan, cetak spanduk, baliho, stiker dll, secara sukarela.

Demikian secangkir larutan kopi pagi di serambi kopiflor.

Penulis: Martin Theodore

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed