by

TRADISI LISAN VS LITERASI DAN DIGITALISASI: REFLEKSI DAN PERJUANGAN GENERASI NAGA

Simply da Flores
_Direktur Harmoni Institut, Anggota ATL, Alumnus STF Driyarkara

Rabu,17 Maret 2021

Simply Da Flores

Generasi Naga yang dimaksud dalam judul tulisan ini yakni generasi yang terlahir di kepulauan Naga – Flores dalam peta Indonesia. Aneka suku adat budaya yang terlahir dan turun temurun di wilayah Kepulauan Naga – Flores, yang memiliki tradisi lisan dalam setiap komunitas adat budayanya (lebih dari 75 suku yang tersebar di pulau Lembata, Adonara, Solor, PaluE, Ende, Riung, Komodo dan Flores).

Kita Naga – Bukan Bunga

Menurut tradisi adat budaya yang tersebar dari pulau Lembata sampai Flores, nama wilayah ini pada intinya berarti Pulau Naga – Sawaria – Ular Piton Rakasana, yang menjelma dan sedang tidur berjaga. Keanekaragaman sumber daya alam dan aneka suku adat budaya yang hadir di wilayah ini adalah generasi Naga, yang memiliki spirit dan karakter seperti asala mula dan sumber keberadaannya.

Sosok Naga, bukan saja pada tataran nama, tetapi lebih dari itu adalah sebuah wujud simbol sakral yang dialami sebagai wujud simbol dari Sang Pencipta alam semesta dan isinya.

Dalam tradisi adat budaya Lamaholot, sekarang Kabupaten Lembata dan Flores Timur, kepulauan ini disebut Nuha Ula, koten rae lera gere – ikun lau lera lodo. Wilayah ini adalah pulau ular raksasa, kepala di arah matahari terbit, ekornya di barat matahari terbenam. Ungkapan yang sama makna, berbeda bahasa juga di masyarakat adat Tana Ai dan Krowe yakni Krowe nuhan ular tana loran – nuhan naga sawaria, ‘Loen le lero hae – our wawa Lero meseng. Dalam bahasa komunitas adat Lio disebut dengan ungkapan, Nusa Nipa – Nipa Ria, ulu leja geju – Eko leja mele. Sedangkan di komunitas adat Ngadha dan Manggarai disebut Nutja Lale atau pulau ular – Naga.

Secara kasat mata di wilayah kepulauan Flores ada Naga Komodo di wilayah kepulauan Komodo – Manggarai, Boa- komodo yang ukuran lebih kecil di wilayah Ngadha dan Nagekeo. Sedangkan aneka jenis ular besar sampai kecil, seperti phyton, sanca, ular sawah, dijumpai di seluruh wilayah kepulauan Flores. Semua jenis reptil ini diperlakukan secara istimewa, karena dipercaya sebagai simbol leluhur, penjaga alam dan kehadiran Sang Pencipta. Ada berbagai ukiran, motif pada kain sarung tenunan dan bentuk penghormatan dalam ritual di setiap komunitas adat budaya yang ada di kepulauan Naga – Flores.

Nama Flores – flora da cabo diberikan oleh penjajah Portugis, karena alasan penemuan adanya batu karang yang berbentuk seperti bunga di wilayah Lamaholot – Kabupaten Flores Timur. Dahulu, Portugis bermarkas di pulau Solor, sehingga seluruh wilayah ini disebut Solor dan kepulauannya. Memang di wilayah ini ada juga beraneka bunga yang khas, namun masyarakat adat tradisi tidak menyebut dirinya sebagai bunga, karena menyadari karakternya energik dan multi talenta, heroik dan atraktif, beraneka gaya dan berwarna-warni kekayaan alam dan budayanya. Kami Naga yang beraneka warna, energik dan kaya, jadi BUKAN Bunga – seperti kata orang Portugis.

Namun, karena mereka menguasai informasi modern, tradisi tulisan dan membuat peta serta publikasi, maka nama Flores – Flora da Cabo yang disebarluaskan dan dikenal dunia hingga saat ini. Pada hakekatnya, masyarakat adat tradisi setempat menghidupi dan menyatakan diri, ‘kami generasi pewaris kepulauan naga, bukan bunga’.

Khasanah Tradisi Lisan dan Pengaruh Literer Asing

Masyarakat adat budaya yang mendiami kepulauan Naga – Flores adalah kita masyarakat dengan tradisi lisan. Seluruh adat budaya leluhur diwariskan secara lisan dalam bahasa tutur, benda-benda karya tangan, ritual dan kesenian, yang juga mengandung nilai moral, cara pandang, teknologi dan ilmu pengetahuan, filosofi dan religiositas – spiritualitas mereka. Semuanya diwariskan kepada kita tanpa tulisan – tanpa aksara – non literer atau disebut oral traditon

Jika diteliti secara saksama, dari warisan bahasa tutur yang ada serta simbol dan ritual yang masih ditemukan, maka ada lebih dari 100 suku adat budaya di wilayah kepulauan Naga – Flores. Hanya di Lembata saja ada lebih dari 40 bahasa daerah – komunitas adat lokal, lalu ditambah lagi suku-suku adat dengan bahasanya: Lamaholot, Muhan, Tana Ai, Krowe, PaluE, Lio, Nagekeo, Ngadha, Manggarai. Dari kelompok bahasa tersebut, masih ada banyak dialek yang khas dari sub etnik di setiap komunitas wilayah adat budaya dengan bahasa lokal itu.

Khasanah tradisi lisan warisan leluhur ini dan konteks alam lingkungannya, membentuk karakter dan kepribadian generasi secara turun temurun sejak zaman leluhur. Namun, semua khasanah adat budaya lisan ini ikut berkembang sesuai kamajuan zaman, dalam beberapa periode.

Pertama, adanya interaksi lokal antar suku di komunitas adat budaya saling berpengaruh secara positif dan negatif; artinya ada yang bersingkretis saling memperkaya dan ada saling desteiktif – menghilangkan.

Kedua, adanya pengaruh dari adat budaya luar terjadi beberapa periode. Ada pengaruh adari komunitas adat budaya di Nusantara karena kepentingan kekuasaan kerajaan dan perdagangan; seperti dari Goa, Bima, Ternate, Tidore, Bali, Jawa, Sumatera dan Malaka. Ketiga, adanya pengaruhi asing dari luar Indonesia yakni Gujarat, China, lalu Arab dan Eropa – (Portugis, Spanyol, Belanda, Jepang).

Sejak adanya pengaruh relasi dengan komunitas adat budaya dari luar kepulauan Naga – Flores, maka tradisi lisan masyarakat adat setempat mulai berinteraksi dengan tradisi tulis – literer. Maka mulailah ada pengenalan terhadap tradisi tulis dan membaca, sejalan juga dengan adanya pendidikan modern serta penyebaran agama dari Arab, China dan Eropa.

Akibat perjumpaan, pengenalan dan pengaruh tradisi tulis tersebut, ada banyak perubahan bagi masyarakat tradisi lisan dalam adat budaya lokal di kepulauan Naga – Flores. Banyak pengaruh positif dalam pengetahuan dan ketrampilan, sekaligus dalam cara pandang, pola relasi, nilai dan spiritualitas. Ada juga banyak pengaruh negatif, khusus soal pelabelan terhadap kepribadian lokal serta khasanah adat budaya tradisi lisan lokal. Bahkan ada semacam dikotomi ekstrim terhadap martabat kemanusiaan, bahwa yang belum ikut ajaran agama Barat adalah kafir dan laknat- keturunan jahil – Jentiu. Lalu banyak ritual dan simbol dihancurkan karena dianggap kejahatan – jahiliah dan peradaban barbar.

Ketika ada kesadaran baru, lebih moderat setelah zaman penjajahan, maka mulai diungkapkan adanya hal positif dalam tradisi lisan adat budaya, khasanah warisan leluhur lokal. Di lingkup agama Katholik, kemudian kesadaran ini dinyatakan dalam pengakuan keanekaragaman kultural dan semangat inkulturasi iman. Martabat manusia dengan segala keanekaragaman budaya dihargai sama sebagai ciptaan Allah yang luhur.

Era Milenium dan Digitalisasi

Setelah modernisasi dan segala dampaknya, komunitas adat budaya di kepulauan Naga – Flores, dengan tradisi lisannya, mendapat pengaruh budaya digitalisasi. Budaya tulis pada kertas dan benda keras berubah ke zaman milenium; dengan tulisan, suara dan gambar dalam sistem digital. Salah satu pengaruhnya yang masif, sistematis dan terstruktur adalah kemudahan menjangkau jarak dalam teknologi modern, berubah menjadi dunia tanpa jarak dalam zaman digital. Teknologi informasi digital hampir menghilangkan jarak relasi antara wilayah dan individu manusia.

Zaman budaya digital, tidak saja mempermudah relasi manusia dengan distribusi informasi, tetapi ikut mempengaruhi dan mengubah cara kerja, cara berpikir, nilai kemanusiaan, moralitas bahkan spiritualitas.

Manusia di komunitas adat budaya kepulauan Naga – Flores, tidak bisa menutup diri dari pengaruh modernitas dan milenium digitalisasi. Tradisi literer dan digital mengitari, mempengaruhi bahkan menjadi antmosfir baru yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan kita yang berakar pada tradisi lisan. Inilah perang budaya dalam diri kita generasi pewaris kepulauan Naga – Flores, dan harus dihadapi karena tidak bisa dihindari.

Dalam darah daging kita mengalir tradisi lisan dari leluhur, sekaligus pesatnya perkembangan zaman melingkupi kita dengan pengaruhnya yang begitu kuat di segala aspek kehidupan; dengan tradisi literer dan digital. Kita ditantang untuk membuat pilihan, beradaptasi, bertransformasi dan berinovasi, agar bertahan hidup dan mengambil manfaat positif dari kemajuan literer dan digitalisasi.

Di satu pihak, secara positif bisa dikatakan kita kaya dengan adanya tiga tradisi, jika kita mampu merangkul masa lalu, mengelola masa kini untuk kehidupan dan menyongsong masa depan. Namun, jika kita tidak memiliki spirit dan ketahanan pribadi, maka warisan tradisi lisan dalam diri akan semakin kabur dan hilang, hilang identitas, lalu kita beralih atau terbawa arus ke tradisi modern literer dan tradisi digital milenial.

Sebuah Perjuangan, Introspeksi dan Harapan

Secara faktual dan fisik, kita terlahir di wilayah tradisi lisan, pewaris darah leluhur dengan adat budaya, sehingga fisik kita tetap generasi lokal kepulauan Naga – Flores. Tetapi kita bisa menjadi terasing dengan diri sendiri dan kehilangan identitas tradisi lisan, karena diubah untuk memiliki cara berpikir, filosofi hidup, spirit dan nilai modern serta prinsip digital milenial.

Soal identitas kultural, menjadi tantangan dan perang dalam diri kita, untuk membuat pemahaman, pilihan dan keputusan demi membangun kehidupan sekarang serta ke depan. Pengalaman komunitas adat budaya di Bali, dengan identitas kulturalnya, bisa menjadi satu rujukan refleksi dan pembelajaran berharga bagi generasi kita di kepulauan Naga – Flores, dalam membangun dan menjaga identitas kita, untuk memberi makna kepada kehidupan zaman now dengan segala tantangannya.

Inilah yang coba saya catat sebagai bahan sharing dan diskusi, dengan judul tulisan di atas.Tradisi lisan vs Literasi dan Digitalisasi: Refleksi, Perjuangan dan Harapan Generasi Naga. Bagaimana menjaga identitas kultural kita di tengah dasyatnya modernitas dan digitalisasi yang mempengaruhi semua aspek kehidupan ? Sebuah pertanyaan introspeksi dan otokritik.

Diskusi topik ini, hemat saya, menjadi relevan sehubungan gencarnya pengembangan bidang pariwisata seperti di Labuan Bajo dan Komodo, lalu nanti ke Kawasan Kelimutu, Larantuka dan Lamalera serta berbagai obyek alam dan budaya di seluruh kepulauan Naga – Flores.

Juga tema ini sebagai bahan sharing dan introspeksi, sejalan dengan semangat pemekaran daerah otonomi baru seperti Kabupaten Adonara, Kodya Maumere dan Propinsi Kepulauan Flores. Pengalaman yang sudah terjadi yakni kepentingan politik pada saat pilkada dan pemilu, dimana khasanah tradisi lisan dibenturkan dengan tradisi modern dan milenial, kepentingan individu dan kelompok dibenturkan dengan kepentingan adat budaya yang bersifat kekeluargaan dan komunal. Sekali lagi, sebagai refleksi bersama, bahwa upaya mewujudkan kemajuan dan kesejahteraan ekonomi modern milenial di satu pihak, kebijakan politik dan pengembangan otonomi wilayah administrasi pemerintahan (desa/kelurahan, kabupaten/ kota, juga Propinsi) di lain pihak, memiliki kekuatan pengaruh, prinsip dan konsekuensi masing-masing. Faktanya bahwa semua itu sangat berpengaruh dan menjadi tantangan terhadap eksistensi kita manusia generasi pewaris kepulauan naga – Flores yang terus bertambah, serta potensi sumber daya alam kita yang terbatas dan menurun kualitasnya. Bagaimana harus membuat pilihan dan keputusan yang bijak, nilai dan prinsip mana yang harus dipegang, orientasi dan kepentingan mana yang menjadi prioritas, adalah perang dan tantangan riil sekarang dan ke depan. Apakah kita generasi yang berkarakter dan beridentitas naga atau bunga ? Mampukah kita tetap menjadi generasi naga – pewaris karakter identitas adat budaya tradisi lisan ? Bisakah kita membuat adaptasi kreatif, transformasir dan inovasi di tengah pengaruh kemajuan literasi dan digitalisasi zaman now ? Lalu, terciptalah kehidupan mandiri, sejahtera dan beridentitas generasi naga, di zaman milenium, kemudian diwariskan kepada generasi penerus tanpa kehilangan identitas.

Hal yang sama ini, identitas kultural dengan tradisi lisan, mungkin juga menjadi relevan bagi generasi pewaris tradisi lisan di bumi Marapu – Sumba, Bumi Lorosae – Timor serta kepulaun Flobamora lain dan komunitas adat budaya Nusantara dengan tradisi lisan di seluruh tanah air Indonesia tercinta. Bagian identitas dan jati diri bangsa yang ditegaskan dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Semoga.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 comments

  1. Tulisan yang bagus, penting untuk generasi penerus. Budaya mustinya tetap dipertahankan, bahasa lokal/ibu juga musti diwariskan, menjadi indentitas.

    Dugaan sy generasi milenial, bisa sebagain lupa dengan budaya dan tradisi dari leluhur.

News Feed