by

Dekranasda Manggarai Soal Kain Songke: Pertahankan Karateristik dan Harus Miliki Histori

“Ekraf akan menjadi salah satu pendukung perekonomian daerah, sehingga keberadaan pelaku dan usaha Ekraf menjadi perhatian serius Pemkab Manggarai ke depannya,” imbuhnya.

Rabu,17 Maret 2021

Proses penenunan Songke di Cibal Manggarai

Kopiflor,Ruteng-Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) kabupaten Manggarai mengupayakan agar kerjanan kain tenunan songket Manggarai harus memiliki brand sehingga diminati oleh konsumen, khususnya pasar dalam negeri dan internasional.

Setelah mengunjungi sentra pengembangan tenun songke di Cibal beberapa hari lalu, pada Minggu (14/3/2021), Ketua dan Wakil Ketua Dekranasda Kabupaten Manggarai, Ny. Meldy Hagur-Nabit dan Ny. Rin Ganggut-Ngabut, mengunjungi pengrajin tenun songke di sejumlah desa di kecamatan Reok Barat.

Isteri bupati dan Wabup Manggarai tersebut didampingi pihak Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupten Manggarai mengunjungi kelompok pengrajin tenun songke Manggarai di desa Ruis, desa Salama dan desa Robek.

Ketua Dekranasda Kabupaten Manggarai, Ny. Meldy Hagur-Nabit di hadapan para pengrajin kain songke Manggarai di desa Ruis mengatakan, kedatangannya bersama Wakil Ketua Dekranasda dan rombongan, mau mencaritahu, bagaimana para penenun membuat produknya.

“Motif songke yang dihasilkan itu seperti apa, mengapa dan bagaimana makna motif tersebut,” katanya.

Dia sampaikan, motof-motif yang berbeda tersebut adalah karaketristik masing-masing wilayah yang harus dipertahankan karena itu menceritakan bagaimana karakter manusia dan alam sekitarnya.

“Yang saya amati, motif kain songke di Ruis coraknya sangat ramai dan warnanya tajam. Itu berbeda dengan motif songke yang dibuat oleh orang Cibal, yang corak dan warnanya halus. Berbeda lagi dengan motif kain Todo yang warnya hanya satu seperti towe (kain) kemumu,” jelasnya.

Menurutnya, karateristik yang ada pada berbagai motif songket tersebut, menunjukkan karaterstik orang di wilayah itu. “Dan motif atau karateristik tersebut merupakan turun-temurun. Sudah sejak nenek moyang,” ujarnya.

Dia tambahkan, karena motif kain songket itu menunjukkan karateristik, maka harus dipertahankan.

Selain karateristik, lanjutnya, hal lain yang diperhatikan adalah soal histori kain songket yang diproduksi. Dia mendorong, agar kain songket Manggarai memiliki histori sebagai pembeda. “Bagaimana kita membuat songke yang secara histori berbeda-beda soal pengguna dan waktunya,” harapnya.

Dia mencontohkan, bagaimana menciptakan motif songke untuk seorang gadis atau remaja putra, atau bagaimana corak songke yang digunakan oleh calon pengantin saat acara masuk minta, atau juga corak songke saat acara adat penti, acara roko molas poco, acara kematian dan sebagainya.

“Untuk songke Manggarai, kita hanya memiliki motif untuk perempuan dan laki-laki saja. Ke depan, kita harus memiliki histori lain untuk motif songke, mengikuti moment dan usia,” lanjutnya.

Selain yang disebutkan di atas, dia janjikan, ke depannya Dekranasda kabupaten Manggarai akan mendukung penuh pengembangan Ekraf di Manggarai. “Pengembangan SDM Ekraf menjadi prioritas untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan memiliki daya saing serta pemasaran melalui manajemen usaha yang baik, didukung oleh digital marketing,” tambahnya.

Dekranasda kabupaten Manggarai mendukung kebijakan Pemkab Manggarai di era kepempinan H2N untuk menjadikan Ekraf sebagai penopang perekonomian daerah. “Ekraf akan menjadi salah satu pendukung perekonomian daerah, sehingga keberadaan pelaku dan usaha Ekraf menjadi perhatian serius Pemkab Manggara, ke depannya,” imbuhnya.

Untuk itu, lanjutnya, dalam jangka Panjang Ekraf, khususnya kerajinan tenun songket Manggarai tidak asal menghasilkan dan harus berkelanjutan sebagai sebiah mata pencaharian pokok para pelakunya.

Meldy Hagur-Nabit  bersama wakilnya, Rin Ganggut-Ngabut menjadikan tahun 2021 sebagai tahun kebangkitan Dekranasda Kabupaten Manggarai, sekaligus mengupayakan agar hasil produk Ekraf seperti songke Manggarai menjadi produk yang go international.(MX) Diteruskan dari media Realita NTT.com.

Laporan: Ahmad Yani-Reok

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed