by

BUDIDAYA SORGUM DI ENDE FLORES

11 Maret 2021

Oleh : Yuning Paa Wangge, AMd: Bekerja sama dengan Dinas Pertanian Daerah, Badan Pusat (KEMENTAN) Indonesia.

Sorgum

Sorgum merupakan salah satu komoditi yang berpotensi tinggi untuk di budidayakan dan di kembangkan di daerah-daerah kering bahkan di lahan-lahan marginal, seperti di wilayah Solor, dengan keadaan curah hujan dan iklim yang tidak menentu, tahan terhadap hama dan penyakit juga tahan terhadap kekeringan. memiliki kandungan nutrisi yang tinggi
Sorgum sangat baik sebagai sumber bahan pangan selain menghasilkan beras sorgum, sorgum juga dapat diproses menjadi tepung yang dapat menghasilkan bio etanol. MELALUI TEKNOLOGI PENGOLAHAN SORGUM YANG MEMILIKI SENYAWA FENOL SERTA DAPAT MENGHAMBAT PERKEMBANGAN SEL-SEL KANKER DAN TUMOR, MENURUNKAN KOLESTROL DAN SEBAGAI SENYAWA ANTIOKSIDAN BEBAS GLUTEN SEHINGGA COCOK UNTUK PENDERITA DIABETES

Penyiapan Lahan harus dibersihkan dari sisa-sisa tanaman sebelumnya, pengolahan hanya dilakukan secara ringan dengan cara mencangkul tipis permukaan tanah untuk mematikan gulma dan secara ringan  untuk menghambat penguapan air.

Tanah yang sudah diolah sebaiknya diberikan pupuk organik  agar dapat memperbaiki struktur tanah, memperbesar persediaan air, mempercepat pelapukan, meratakan tanah dan memberantas gulma.
Pemilihan Varietas Untuk mendapatkan hasil yang baik, yang harus diperhatikan adalah penanaman jenis varietas unggul yang cocok dan sesuai dengan lingkungan hidup setempat serta penerapan teknik. 

Untuk menanam Sorgum yang baik, karena tidak tergantung pada musim-musim tertentu adalah di akhir musim hujan dan awal musim kemarau.
Penanaman Jarak tanam sorgum dapat bervariasi sesuai dengan varietas yang digunakan,  dengan jarak tanam 70 cm x 20 cm dengan jumlah benih yang ditanam 3- 5 biji, kemudian ditutup dengan tanah ringan. Penutupan tanah secara padat dan berat menyebabkan biji susah berkecambah..


Pemeliharaan Tanaman sorgum berproduksi baik walaupun tanpa pupuk. 


Penjarangan Tanaman Pertumbuhan tanaman sorgum biasanya sudah merata/seragam pada umur 2 minggu setelah tanam. Namun demikian tidak semuanya tanaman yang tumbuh di tiap lubang dengan baik. Apabila terdapat tumbuh yang kurang baik perlu dilakukan penjarangan dengan mencabut tanaman yang kurang baik tersebut. Sehingga pada tiap lubang tersisa 3 tanaman yang terbaik untuk dipelihara hingga panen. 

Yuning Paa Wangge

Penyiangan Penyiangan dilakukan dengan mencabut tumbuhan pengganggu (gulma) hingga perakarannya secara hati-hati, agar tidak mengganggu perakaran tanaman utama. Keberadaan gulma akan menjadi pesaing bagi tanaman utama dalam mendapatkan air dan unsur hara yang ada di dalam tanah atau bahkan menjadi tempat hama atau penyakit.

Oleh sebab itu gulma harus secara rutin di bersihkan. Gulma yang telah dicabut sebaiknya ditampung atau dikubur di suatu tempat agar membusuk sehingga kemudian dapat dijadikan pupuk kompos. 
Penggemburkan tanah disekitar tanaman sorgum, kemudian menimbunkan tanah tersebut pada pangkal batang tanaman sorgum sehingga membentuk gulu dan gulu kecil yang bertujuan untuk mengokohkan batang tanaman agar tidak mudah rebah dan merangsang terbentuknya akar-akar baru pada pangkal batang.

 
Pengendalian hama dan penyakit

Pemeliharaan tanaman adalah berupa pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) yang dapat berupa gulma, hama dan penyakit tanaman. Hama yang banyak menyerang tanaman sorgum adalah  burung. Hama burung dapat dilakukan dengan pengaturan sistem amplitudo suara, salah satu metode sederhana yaitu dengan membuat orang-orangan yang  ditempatkan didalam kebun.


Tanaman sorgum termasuk tanaman yang sedikit terserang hama dan penyakit, bila dibandingkan dengan  tanaman lainnya. Namun terdapat beberapa hama dan penyakit tanaman sorgum yang utama seperti :
-Lalat bibit (Atherigonaexiqua stein)

Tanaman Sorgum


 Lalat bibit ini menyerang tanaman dibagian pangkal batang tanaman dengan menggerek dan menyerang tanaman sorgum muda ( Berumur 3 minggu setelah tanam) Sehingga menyebabkan berlubang kecil tidak teratur dan akhirnya tanaman menjadi layu, kemudian mati. Pengendalian lalat bibit dapat dilakukan dengan penanaman serempak dan menaburkan insektisida 10 kg furadan 3G per ha pada saat tanam


Ulat Tanah Agrotis sp)Ulat ini biasanya menyerang tanaman pada malam hari dengan sasaran tanaman sorgum stadium muda. Serangannya menyebabkan pangkal batang tanaman terpotong tepat  di atas permukaan tanah, sehingga bekas tanaman tampak terkulai.
Cara pengendaliannya dengan menaburkan insektisida Furadan 3G berdosis 20 – 30 kg/ha yang dilakukan bersamaan pada saat penanaman.


Hama Bubuk Disebabkan adanya serangan Sitophilus sp yang menyerang biji sorgum digudang penyimpanan. Serangga ini menyerang biji sorgum yang berlubang-lubang dan keropos sehingga tidak layak untuk dikonsumsi. Pengendalian hama bubuk ini dilakukan dengan cara menyimpan biji sorgum yang dicampur dengan serbuk daun putri malu (Mimosa pudica). Dengan perbandingan 10 : 1. Hal ini disebabkan karena daun putri malu mengandung protein mimsan yang dapat merusak dan menghambat pertumbuhan larva hama bubuk.


Karat Daun

Gejala serangannya adalah munculnya noda-noda kecil berwarna merah karat yang kemudian diikuti dengan timbulnya masa tepung berwarna coklat kekuning-kuningan yang menutupi permukaan daun. Pengendaliannya dengan cara pemangkasan daun yang terinfeksi berat dan melakukan pergiliran/ rotasi tanaman.


Bercak daun


 Daun bercak ditandai dengan munculnya bercak bulat berukuran kecil dan berwarna yang dikelilingi warna coklat pada daun yang terinfeksi
Pengendaliannya dapat dlakukan dengan  menanam varietas yang tahan (Mandau) dan disemprot dengan fungisida ( Dithane M45 atau Antracol 70 WP)
Kapang Jelaga Gejala serangan pada permukaan atas daun tertutup oleh lapisan yang berwarna hitam, kering dan tipis.
Pengendalian dapat dilakukan dengan penyemprotan kapu atau dengan menghembuskan belerang.

Panen dan Pasca Panen

  
Kualitas dan kuantitas hasil panenan sorgum sangat ditentukan oleh ketepatan waktu (baik tanam maupun panen)
Panen Tanaman sorgum sudah dapat dipanen pada umur 3- 4 bulan tergantung varietas. Pemanenan juga dapat dilakukan setelah terlihat adanya ciri-ciri seperti daun-daun berwarna kuning dan mengering, biji-biji bernas dan keras serta berkadar tepung maksimal. 


Panen sebaiknya dilakukan pada keadaan cuaca cerah/terang. Dengan cara pemotongan dilakukan pada pangkal tangkai/mulai buah sorgum dengan panjang sekitar 15- 25 cm.
 Untuk meningkatkan produksi sorgum dapat dilakukan budidaya lanjutan dengan cara ratun yaitu pemangkasan batang tanaman pada musim panen pertama yang dilanjutkan dengan pemeliharaan tunas-tunas baru pada periode kedua.


Adapun tata cara budidaya sorgum ratun setelah panen musim pertama adalah sebagai berikut : 

Pada stadium buah tua dilakukan panen musim kedua. Pasca Panen Pengeringan Pengeringan dapat dilakukan dengan dijemur dibawah sinar matahari. Lama penjemuran hingga biji sorgum berkadar air 12%-14% atau 60 jam. 
Perontokkan Biji sorgum dirontokan dari malainya dengan cara diirik atau dapat pula dengan menggunakan mesin perontok atau dengan cara manual, kemudian dijemur ulang dengan disebarkan secara merata diatas lantai jemur. 
Wadah dan Penyimpanan Biji sorgum segera diwadahi dalam tempat yang kedap udara. Bisa juga, benih sorgum disimpan di atas para-para dapur. Biar awet secara alamiah.

Seusai panen pada musim pertama segera dilakukan pemotongan batang yang tua dengan ketinggian + diatas permukaan tanah. Tanah disekitar tanaman sorgum dibersihkan dari rumput liar/gulma. Tanaman yang berasal dari tunas-tunas baru (ratun) dipelihara dengan baik seperti pada pemeliharaan tanaman periode pertama. (Mx)

Sumber: https://trianapaawangge73.blogspot.com/

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed